UGM Buktikan Kapabilitas Mahasiswa Teknik dalam Kompetisi Debat Energi Nasional
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional melalui kiprah mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tim yang beranggotakan John Oliver Home dari Teknik Geologi 2023, Rosita Susanti Lestari Ayu dari Teknik Geologi 2024, serta Muhammad Zidan dari Geofisika 2023 berhasil meraih posisi juara kedua dalam ajang Student Debate Competition IPA Convex 2026 yang berlangsung pada 20–22 Mei di ICE Building, Tangerang, Banten.
Kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex), sebuah forum bergengsi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk membahas isu strategis sektor energi nasional. Dalam kesempatan tersebut, tim UGM mengangkat tema mengenai transmisi migas dan tantangan pengelolaan energi di Indonesia, sebuah topik yang relevan dengan kebutuhan ketahanan energi dan pemerataan distribusi di tanah air.
Keberhasilan tim UGM menjadi sorotan karena seluruh anggota berasal dari latar belakang teknik dan sains, bukan dari rumpun sosial-humaniora yang biasanya lebih akrab dengan format kompetisi debat. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa teknik tidak hanya unggul dalam aspek akademik dan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan arena komunikasi dan argumentasi yang menuntut ketajaman berpikir kritis.
John Oliver Home menuturkan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menyesuaikan pola pikir teknis dengan format debat yang menekankan argumentasi sistematis dan persuasif. “Kami terbiasa berpikir berbasis data dan analisis geologi maupun geofisika. Namun dalam debat, kami harus belajar menyampaikan argumen secara runtut, meyakinkan, dan tetap mudah dipahami,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa persiapan tim dilakukan dengan memperluas wawasan mengenai isu energi nasional, termasuk aspek kebijakan, ekonomi, dan keberlanjutan.
Rosita Susanti Lestari Ayu menekankan pentingnya komunikasi dalam dunia teknik. Menurutnya, pengalaman mengikuti kompetisi ini membuka perspektif baru bahwa kemampuan menyampaikan gagasan sama pentingnya dengan penguasaan substansi teknis. “Awalnya kami sempat minder karena banyak peserta lain yang sudah berpengalaman dalam debat dan berasal dari latar belakang sosial-humaniora. Namun kami berusaha memanfaatkan kekuatan kami dalam analisis teknis dan data untuk memperkuat argumen,” katanya. Ia menilai kerja sama tim menjadi faktor kunci yang membawa mereka hingga babak final. “Kami saling melengkapi, ada yang fokus pada substansi teknis, ada yang mendalami regulasi dan kebijakan energi, sehingga terbentuk argumentasi yang utuh,” tambahnya.