Jurnalisme Berkualitas Jadi Kunci Hadapi Disrupsi Media dan Banjir Informasi Digital
- Viva Jogja
VIVA Jogja –Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri media secara drastis.
Kecepatan informasi, kemunculan media sosial, hingga maraknya konten yang belum terverifikasi menjadi tantangan baru bagi dunia jurnalistik.
Di tengah situasi tersebut, wartawan dituntut untuk kembali menguatkan prinsip dasar profesinya: menghadirkan informasi yang benar, relevan, dan berpihak pada kepentingan publik.
Pesan itu disampaikan jurnalis senior dan akademisi, Fransiskus Surdiasis, dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bersama Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG), Rabu (3/6/2026).
Menurut Fransiskus, tantangan terbesar jurnalisme saat ini bukan lagi sekadar memperoleh informasi, melainkan bagaimana membantu publik memahami makna dari informasi yang beredar begitu deras setiap hari.
“Jurnalisme berangkat dari hak publik untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.
Karena itu, kewajiban utama jurnalisme adalah melayani masyarakat dengan menghadirkan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan lingkungannya,” ujarnya.
Ia menilai, era digital menghadirkan paradoks.
Di satu sisi masyarakat memperoleh akses informasi yang sangat luas, namun di sisi lain semakin sulit membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Karena itu, peran wartawan justru menjadi semakin penting.
Fransiskus menjelaskan, jurnalisme berkualitas harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni kepentingan publik, upaya mengungkap kebenaran, dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik.
Wartawan harus mampu menentukan isu mana yang paling penting bagi masyarakat dan menyajikannya secara bertanggung jawab.
Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral.
Etika menjadi landasan dalam setiap keputusan jurnalistik, mulai dari menentukan sudut pandang berita hingga memverifikasi fakta sebelum dipublikasikan.
Dalam paparannya, Fransiskus juga mengulas tantangan yang muncul akibat transformasi digital.
Salah satunya adalah kecenderungan media mengejar kecepatan publikasi sehingga akurasi dan kedalaman informasi kerap terabaikan.
Selain itu, praktik clickbait dan menurunnya keberagaman isu yang diangkat media juga menjadi ancaman bagi kualitas jurnalisme.
“Ketika media terlalu fokus pada trafik dan kecepatan, ada risiko jurnalisme kehilangan fungsi utamanya sebagai penyedia informasi yang bermakna bagi publik,” katanya.