DaurKita, Gerakan Mahasiswa UGM untuk Akses Bank Sampah Digital di Yogyakarta
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Krisis pengelolaan sampah yang semakin kompleks di Yogyakarta mendorong lahirnya berbagai inisiatif dari kalangan muda, salah satunya melalui program DaurKita yang digagas oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas keterbatasan akses masyarakat terhadap informasi dan fasilitas bank sampah. Dengan dukungan insentif serta pembekalan kepemimpinan dari GIK, tim mahasiswa yang beranggotakan 12 orang ini merilis laman digital berisi daftar bank sampah di Yogyakarta dan sekitarnya. Kehadiran DaurKita menjadi terobosan baru yang memudahkan masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk menemukan lokasi penyetoran sampah terdekat.
Dalam workshop bertajuk Bijak Mengelola Sampah yang digelar Sabtu (06/06/2026), DaurKita memperkenalkan laman tersebut dengan menggandeng Lokalogi by Pramuka UGM. Melalui jenama Bank Sampah Digital, DaurKita menyediakan informasi 18 mitra bank sampah yang tersebar di enam kecamatan. Empat jenis sampah yang dapat dikelola oleh mitra meliputi organik, anorganik, B3, dan residu. “Harapan kami, DaurKita dapat menjembatani teman-teman mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. Dengan ini, kendala akses dan informasi bisa diredam,” ujar Jeffryta Nasya Sanjaya, Project Officer DaurKita.
Lokalogi, yang sejak 2024 konsisten mendampingi pengelolaan sampah dalam berbagai acara besar mahasiswa seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga konser tahunan, turut berbagi pengalaman dalam workshop tersebut. Mereka menjelaskan bagaimana data sampah dihimpun dari pengunjung acara setelah dilakukan pemilahan. Yudhistira, perwakilan Lokalogi, menuturkan bahwa lonjakan sampah residu biasanya terjadi pada penutupan acara karena jumlah pengunjung meningkat sementara relawan yang bertugas terbatas. Ia juga menekankan pentingnya masa persiapan acara karena sampah yang dihasilkan pada tahap ini sering tidak terkontrol.
Dukungan terhadap DaurKita juga datang dari Abiyyi, perwakilan Lokalogi lainnya, yang menyoroti peran penting bank sampah dalam sistem pengelolaan. Menurutnya, bank sampah terdesentralisasi menjadi intervensi yang diperlukan di wilayah dengan sistem pengangkutan yang belum terpilah. Selain itu, bank sampah dapat menjembatani kesenjangan rantai dari konsumen ke pabrik daur ulang yang jumlahnya masih terbatas. Ia menambahkan bahwa insentif dari bank sampah bisa mendorong masyarakat untuk lebih rajin memilah sampah. “Sampah yang terpilah masih ada harganya, sehingga harusnya bisa dijual meski nilainya turun. Tujuan sirkuler ini tidak dapat berjalan tanpa proses pemilahan dari konsumen,” jelasnya.