UGM Dorong Kemandirian Benih Lokal untuk Masa Depan Pangan Nasional

Sebagian besar petani masih bergantung pada tiga varietas utama, yakni Inpari 32, Ciherang, dan Mekonga.
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Industri benih di Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yang muncul dari krisis iklim global, ketegangan geopolitik, keterbatasan rantai pasok, hingga belum optimalnya penguasaan teknologi perbenihan. Meski hingga 2023 tercatat 530 varietas unggul padi baru telah dirilis, hanya 155 varietas yang benar-benar ditanam petani. Bahkan sebagian besar petani masih bergantung pada tiga varietas utama, yakni Inpari 32, Ciherang, dan Mekonga. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara inovasi varietas dengan adopsi di lapangan.

img_title Gamagora: Inovasi Padi UGM yang Menguatkan Ketahanan Pangan dari Madiun

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr Ir Ladiyani Retno Widowati, menegaskan bahwa kebutuhan benih bermutu untuk berbagai komoditas sangat tinggi dan menjadi pasar potensial bagi produsen domestik. Ia menyebutkan bahwa benih kedelai, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, dan kacang hijau masih sulit diperoleh. Harapan besar pun diarahkan kepada perguruan tinggi, khususnya UGM, untuk mendukung pengembangan benih lokal yang spesifik dan sesuai kebutuhan. Kehadiran PP No. 7 Tahun 2026 semakin memperkuat peluang tersebut dengan memberikan kepastian hukum, standarisasi mutu, serta rekognisi bagi benih varietas lokal dan petani kecil.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menekankan bahwa inovasi di bidang pertanian menjadi prioritas utama universitas. UGM telah mengembangkan varietas padi Gamagora yang sukses diadopsi di berbagai daerah. Menurutnya, sektor agro adalah tulang punggung ketersediaan pangan dan energi, sehingga UGM membangun ekosistem riset dari hulu hingga hilir. Tidak hanya Fakultas Pertanian, berbagai fakultas lain turut dilibatkan karena isu pangan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga rantai pasok, regulasi, dan perilaku masyarakat.

img_title Gamagora 7, Inovasi Padi UGM yang Diuji di Kaltim untuk Ketahanan Pangan Nasional

Sinergi lintas sektor ini semakin penting karena pembenihan nasional masih menghadapi hambatan dalam menyatukan visi antara akademisi dan pelaku usaha. UGM melalui integrasi riset antarfakultas telah menghasilkan inovasi seperti soil additive berbasis kalium humat untuk meningkatkan produktivitas lahan, serta pemanfaatan limbah geothermal menjadi nanosilika. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi industri benih nasional.

Ketua Ikatan Produsen Benih Hortikultura, Muhammad Aris, menilai usaha kecil menengah paling siap menjadi mitra hilirisasi riset perguruan tinggi. Menurutnya, produsen kecil memiliki peluang tumbuh mandiri dengan mengadopsi sistem manajemen mutu ISO dan memanfaatkan branding digital untuk pemasaran. Ia berharap perguruan tinggi berperan aktif dalam mendukung pemuliaan tanaman agar usaha kecil dapat berkembang.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Mengawal Pangan, Menjaga Dapur Rakyat Tetap Mengepul: Benteng Pangan itu Bernama Bulog