Lebih dari Sekadar Estetika, Prof Tita Ratya Utari Tekankan Makna Fungsional di Balik Pasang Behel
- Dok Humas UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Di tengah tren masyarakat yang semakin menganggap behel sebagai simbol gaya hidup dan penampilan rapi, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr drg Tita Ratya Utari, Sp.Ort., mengingatkan bahwa perawatan ortodonti tidak boleh berhenti pada aspek estetika semata. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di Gedung AR Fachruddin A UMY, Sabtu (13/6/2026), ia menegaskan bahwa keberhasilan pasang behel harus diukur dari keseimbangan fungsi dan ketahanan hasil jangka panjang, bukan hanya dari tampilan gigi yang rapi setelah kawat dilepas.
Menurut Prof Tita, tujuan utama merapikan gigi adalah memastikan sistem pengunyahan bekerja harmonis dan nyaman digunakan seumur hidup. Ia menekankan bahwa gigi, otot, dan sendi rahang merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Jika dokter hanya berfokus pada penataan gigi tanpa memperhatikan keseimbangan oklusi—cara gigi atas dan bawah bertemu saat mengunyah—maka fungsi otot dan sendi rahang bisa terganggu. “Gigi yang rapi belum tentu sehat jika tidak mampu bekerja selaras dengan sistem pengunyahan,” ujarnya dalam orasi ilmiah bertajuk Ortodonti Berbasis Fungsi dan Stabilitas: Paradigma Keilmuan Menuju Keberlanjutan Oklusi di Era Modern.
Fenomena relaps atau bergesernya kembali posisi gigi setelah behel dilepas menjadi salah satu masalah yang sering dikeluhkan pasien. Prof. Tita menjelaskan bahwa relaps bukan semata kesalahan teknis dokter, melainkan proses alami tubuh yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Ketika gigi dipindahkan ke posisi baru, jaringan gusi dan tulang rahang memerlukan penyesuaian agar stabil. Faktor pertumbuhan wajah, gerakan otot mulut, dan kondisi biologis individu turut memengaruhi risiko gigi kembali bergeser. Karena itu, rencana pencegahan relaps harus dipikirkan sejak awal perawatan, bukan setelah behel dilepas.
Ia juga menyoroti bahwa teknologi digital yang kini banyak digunakan dalam dunia ortodonti—seperti pemindaian tiga dimensi (3D), kecerdasan buatan (AI), dan simulasi komputer—memang membantu meningkatkan akurasi diagnosis. Namun, teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti keahlian dokter. “Keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang memahami kondisi biologis pasien. Gigi yang tampak sempurna di layar komputer belum tentu sehat di kehidupan nyata,” tegasnya.