Gen Z Harus Tahu! Modus Rekrut Radikalisme Kini Masuk Dunia Game
- Viva Jogja
SEMARANG, VIVA Jogja – Game online kini tidak hanya menjadi sarana hiburan.
Dunia virtual itu juga diduga dimanfaatkan kelompok radikal untuk merekrut anak-anak dan remaja.
Modus tersebut diungkap Satgaswil Jawa Tengah Densus 88 Antiteror.
Temuan itu disampaikan dalam kegiatan Bacaaja Goes to School: Cegah IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) Kalangan Gen Z di Ruang Digital.
Kegiatan berlangsung di Kampus Soegijapranata Catholic University (SCU) Bendan, Kota Semarang, Kamis, 18 Juni 2026.
Acara merupakan kolaborasi Bacaaja, SCU, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, dan Satgaswil Jawa Tengah Densus 88 Antiteror.
Pesertanya terdiri atas pelajar SMA, SMK, serta mahasiswa dari Kota Semarang.
Katim Semarang Raya Satgaswil Jawa Tengah Densus 88 Antiteror, Iptu Yusuf, mengatakan anak menjadi kelompok paling rentan.
Mereka dinilai belum sepenuhnya memahami dampak informasi yang diterima melalui ruang digital.
"Anak-anak adalah kelompok rentan, sering kali belum memahami dampak informasi yang diterima sehingga mudah dipengaruhi pihak tertentu," katanya.
Yusuf mengungkapkan kelompok radikal kini memanfaatkan game online sebagai pintu masuk perekrutan.
Pelaku memulai komunikasi melalui fitur percakapan antarpemain.
Hubungan kemudian diarahkan menuju pesan pribadi.
Percakapan berlanjut melalui aplikasi perpesanan yang lebih tertutup.
Pada tahap itulah berbagai doktrin kekerasan mulai disisipkan secara bertahap.
"Di Jawa Tengah kami menemukan pola seperti itu," ujarnya.
Menurut Yusuf, sepanjang 2025 terdapat sekitar 22 anak di Jawa Tengah teridentifikasi terpapar kekerasan melalui ruang digital.
Jumlah tersebut kembali bertambah selama 2026.
Psikolog SCU, Christa Vidia Rana Abimanyu, mengatakan proses radikalisasi tidak terjadi secara instan.
Paparan biasanya berlangsung melalui tahapan panjang.
Tahapan dimulai dari intoleransi.
Selanjutnya berkembang menjadi radikalisme.
Kemudian meningkat menjadi ekstremisme.
Tahap akhirnya dapat mengarah pada aksi terorisme.
"Secara psikologis, prosesnya tidak terjadi dalam semalam," katanya.
Abi, sapaan akrabnya, menilai Gen Z menjadi kelompok yang cukup rentan.
Game online dan berbagai platform digital menjadi media efektif penyebaran paham tersebut.
"Dijadikan eksploitasi taktis kelompok ini," ungkapnya.
Wakil Rektor SCU, Gregorius Yoga Panji Asmara, menilai pencegahan tidak cukup dilakukan melalui larangan.