UGM Mantapkan Langkah Menuju Kampus Inklusif Melalui Layanan Informasi Ramah Disabilitas

Kampus UGM
Sumber :
  • Istimewa

SLEMAN, VIVA Jogja - Komitmen Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadi kampus inklusif kembali ditegaskan melalui penguatan aksesibilitas layanan informasi publik yang ramah bagi penyandang disabilitas. Upaya ini bukan sekadar penyediaan fasilitas fisik, melainkan perwujudan prinsip kesetaraan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata pengguna. Melalui asesmen yang cermat, UGM berusaha memastikan setiap individu, tanpa terkecuali, dapat mengakses informasi dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan akademik.

img_title UGM Hidupkan Semangat Tradisi Lewat Festival Karawitan dan Bazar Nusantara

Sekretaris Universitas UGM, Dr Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, menilai bahwa inklusivitas merupakan bagian penting dari reputasi global universitas. Dalam pandangannya, keberhasilan UGM tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan. “Kita perlu mengubah cara pandang terhadap disabilitas. Kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dari aspek fisik, tetapi dari logika, potensi, dan daya pikirnya,” ujar Andi Sandi saat membuka workshop bertema Inklusivitas dan Aksesibilitas dalam Layanan Informasi Publik di Gedung Pusat UGM, Kamis (18/6).

Ia menekankan bahwa komunikasi publik memiliki peran strategis dalam membangun budaya inklusif. Setiap informasi yang disampaikan universitas harus mencerminkan nilai kesetaraan dan penghormatan terhadap hak individu. “Citra institusi bergantung pada bagaimana kita berkomunikasi. Karena itu, setiap pesan publik harus menunjukkan visi UGM sebagai kampus yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan,” tambahnya.

img_title Anak Pedagang Ikan Keliling Raih UKT Nol dan Resmi Jadi Mahasiswa Psikologi UGM

Andi Sandi juga mengajak seluruh unit kerja di UGM untuk memperkuat sinergi dalam menghadirkan layanan yang ramah bagi semua kelompok masyarakat. Menurutnya, semangat inklusivitas tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari setiap kebijakan dan aktivitas kampus. “UGM harus terus berkembang sebagai universitas yang memberi ruang setara bagi seluruh warganya,” tuturnya.

Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, Dr Wuri Handayani, menambahkan bahwa isu disabilitas memerlukan pemahaman mendalam dalam penyusunan kebijakan publik. Ia menjelaskan bahwa inklusivitas dan aksesibilitas adalah dua konsep yang saling berkaitan. “Inklusif adalah tujuan, sementara aksesibilitas adalah cara untuk mencapainya. Kita ingin memastikan semua orang, termasuk penyandang disabilitas, dapat berpartisipasi dan merasa berharga,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Dosen UGM Terima Ancaman Usai Kritik Pejabat, Kampus Siapkan Pendampingan Hukum