Belum resmi dibuka, Wota Wati Kampung Baru di Lembah Bengawan Solo Purba yang Jadi Magnet Wisatawan
- Dok Dinas Pariwisata Gunungkidul
VIVA Jogja – Sebuah kampung kecil di ujung Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, mendadak menjadi buah bibir di media sosial. Wota Wati, nama padukuhan yang terletak di dasar lembah Bengawan Solo Purba itu, kini ramai dikunjungi wisatawan meski belum resmi dibuka dan pembangunan infrastrukturnya masih berlangsung. Fenomena alam yang unik, di mana matahari terbit lebih lambat dan tenggelam lebih cepat dibandingkan wilayah lain, berpadu dengan wajah baru kampung yang ditata seragam, menjadikan Wota Wati magnet baru bagi para pelancong.
Lurah Pucung, Estu Dwiyono, mengungkapkan bahwa sebenarnya grand opening kawasan ini baru dijadwalkan pada akhir 2027 dengan konsep pariwisata berkelanjutan. Namun, antusiasme masyarakat luas membuat Wota Wati lebih dulu diserbu wisatawan. “Pariwisata di Wota Wati mulai ramai, padahal rencana resmi dibuka baru akhir 2027 seiring selesainya pembangunan infrastruktur. Saat ini kami belum sepenuhnya siap menerima tamu secara masif,” jelasnya.
Estu menuturkan bahwa Wota Wati dulunya hanyalah dusun terpencil dengan akses jalan sempit dan curam, serta minim sinyal telekomunikasi. Kondisi itu mendorong pemerintah kalurahan mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Momentum perubahan datang pada 2023 ketika Kalurahan Pucung ditetapkan sebagai Desa Wisata. Pemerintah kemudian menyusun master plan dan detail engineering design yang diajukan ke Paniradya Kaistimewan DIY. Berkat dukungan Dana Keistimewaan atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta pendampingan dari Pemkab Gunungkidul, proyek penataan kawasan ini bisa berjalan dengan pendanaan hingga 90 persen.
Penataan fisik dimulai pada 2024 dengan langkah berani: seluruh fasad rumah warga dan pagar kampung dibuat seragam menggunakan bata merah. Total ada 86 rumah yang dirombak agar selaras dengan pagar benteng kampung. Pendopo, gazebo, dan jalan juga diperbaiki. Estu menjelaskan bahwa desain bata merah dipilih karena identik dengan Majapahit, sementara bentuknya diakulturasikan dengan arsitektur Mataram Yogyakarta. “Akulturasi Majapahit dan Mataram inilah yang membuat cepat viral di akhir 2024,” ujarnya.
Meski membangun fisik relatif mudah, tantangan terbesar justru menyiapkan sumber daya manusia. Estu mengakui bahwa menyadarkan masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata membutuhkan usaha besar. Walau sempat ada penolakan kecil terkait keseragaman tembok, mayoritas warga mendukung penuh. Bahkan banyak yang rela memotong sebagian tanah pribadi demi pembangunan pagar agar jalurnya simetris. Untuk menjaga keberlanjutan, pemerintah kalurahan membuat komitmen hukum bersama warga bahwa selama 20 tahun ke depan bentuk bangunan tidak boleh diubah tanpa persetujuan resmi.