Bukan Sekadar Angka di Hasil Lab, Begini Cara UGM Ajak Sivitas Kendalikan Kolesterol

Masalahnya, kolesterol tinggi kerap datang tanpa gejala yang mudah dikenali.
Sumber :
  • ChatGPT Image

SLEMAN, VIVA Jogja – Secangkir kopi, makanan yang tersaji di meja makan, kesibukan bekerja, hingga kebiasaan berolahraga mungkin terlihat sebagai bagian kecil dari rutinitas sehari-hari. Namun, kebiasaan tersebut perlahan dapat memengaruhi kondisi kesehatan tubuh, termasuk kadar kolesterol.

img_title Mahasiswa UGM Kembangkan Mushfoam, Kemasan Ramah Lingkungan Pengganti Styrofoam

Masalahnya, kolesterol tinggi kerap datang tanpa gejala yang mudah dikenali. Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, sementara kadar kolesterol dalam tubuhnya sudah berada di atas batas yang dianjurkan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan menjadi penting agar kondisi tersebut dapat diketahui lebih awal.

Kesadaran inilah yang coba dibangun Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui kegiatan edukasi mengenai kolesterol tinggi bagi sivitas akademika. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pusat UGM, Senin (31/08/2026), dengan menghadirkan tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Akademik UGM, Gadjah Mada Medical Center (GMC), dan Klinik Korpagama.

img_title Prof Djoko Suryo, Sejarawan Humanis UGM Berpulang

Edukasi tidak hanya membahas persoalan kolesterol dari sisi medis, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali kebiasaan sehari-hari yang dapat memengaruhi kesehatan. Pemeriksaan rutin, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, hingga pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Dokter Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp.PD, menjelaskan bahwa kolesterol sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya harus dihindari. Tubuh tetap membutuhkan kolesterol untuk menjalankan sejumlah fungsi penting. Persoalan muncul ketika kadarnya terlalu tinggi.

img_title Inovasi Mahasiswa UGM, Obat Tuberkulosis Dihantarkan Langsung ke Paru Lewat Inhalasi

Ia menggambarkan kolesterol seperti bumbu dalam makanan. Dalam jumlah yang tepat, bumbu dibutuhkan untuk membuat makanan lebih nikmat. Namun, jika digunakan secara berlebihan, justru dapat menimbulkan masalah.

“Kolesterol itu seperti bumbu, tetap dibutuhkan tubuh, asal jangan kebanyakan,” ujar Gibran.

Kolesterol dalam jumlah berlebih dapat berkontribusi terhadap terbentuknya plak di pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Gangguan metabolisme lemak juga dapat berkaitan dengan persoalan kesehatan lainnya.

Karena itu, menurut Gibran, menjaga kadar kolesterol tidak cukup hanya dengan mengurangi makanan tertentu. Pola hidup secara keseluruhan perlu diperhatikan.

Halaman Selanjutnya
img_title