Teror Pinjol Ilegal Picu Trauma dan Depresi, Psikolog Amanda Putri: Korban Butuh Dukungan Nyata

Psikolog Amanda Putri
Sumber :
  • VIVA Jogja/dokpri

Semarang, VIVA Jogja — Teror dan ancaman dari penagih pinjaman online (pinjol) ilegal kepada para korbannya bukan sekadar persoalan keuangan. Di balik layar ponsel, banyak korban yang harus menanggung luka psikis mendalam. Psikolog Amanda Putri dari Orama Psikologi Semarang menilai, kekerasan digital semacam ini bisa memicu stres berat, rasa takut mendalam, bahkan trauma berkepanjangan.

img_title Trauma Kompleks pada Dewasa Muda: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman

“Ketika seseorang terus-menerus menerima ancaman dan tekanan, tubuh dan pikirannya berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Korban bisa mengalami stres, ketakutan, bahkan trauma,” ujar Amanda, kepada VIVA Jogja, Jumat (31/10).

Menurutnya, dampak psikologis makin parah ketika pelaku mulai menyebarkan foto atau data pribadi korban ke publik. “Penyebaran data pribadi jelas merupakan kejahatan. Itu pelanggaran hukum dan ancaman serius bagi rasa aman seseorang. Dampaknya, korban merasa tidak terlindungi, terus cemas, dan kehilangan rasa percaya diri,” ungkap psikolog yang sempat menekuni profesi wartawan ini. 

img_title Kurang Tidur Tidak Bisa Terbayar Seketika: Kenali Dampaknya pada Kesehatan

Amanda menjelaskan, tidak sedikit korban yang akhirnya terjebak dalam keputusasaan mendalam hingga memilih mengakhiri hidupnya. “Keputusan seperti itu tidak muncul tiba-tiba. Ada banyak faktor kompleks di baliknya, mulai dari kondisi biologis, pengalaman hidup, tekanan ekonomi, hingga minimnya dukungan sosial,” terangnya.

Rasa malu dan stigma terhadap utang juga memperparah beban mental korban. “Stigma masyarakat membuat korban merasa sendiri dan enggan mencari bantuan. Ini berbahaya karena memperpanjang penderitaan dan memperbesar risiko depresi berat,” lanjut Amanda.

img_title Batasi Media Sosial untuk Anak? Kaprodi Ilmu Komunikasi UMY: Pendampingan Jadi Kunci

Amanda menekankan pentingnya kepekaan keluarga dalam mengenali perubahan perilaku korban. “Ciri-ciri yang perlu diwaspadai antara lain sulit tidur, perubahan pola makan, menarik diri, dan menurunnya fungsi sehari-hari. Ketika keseharian terganggu, itu tanda tekanan mental sudah berat,” ujarnya. Tak hanya korban, keluarga juga sering ikut terguncang.

“Bukan hanya korban yang diteror, tapi keluarganya ikut stres dan terguncang secara emosional karena situasi keuangan yang berantakan,” tambahnya.

Dalam kondisi demikian, dukungan keluarga menjadi kunci pemulihan. “Dukungan keluarga bukan sekadar empati, tapi juga tindakan nyata. Jika mampu, bantu korban melunasi pinjaman atau carikan alternatif solusi ekonomi. Dukungan emosional juga penting agar korban merasa tidak sendirian,” saran Amanda.

Halaman Selanjutnya
img_title