Kerangka Logam Organik, Material Masa Depan yang Bisa Menangkap Air dan Menyimpan Karbon
- mdpi.com
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Dunia sains material kembali menyoroti penemuan Metal–Organic Frameworks (MOF) atau kerangka logam organik, yang kini dianggap sebagai salah satu terobosan paling revolusioner setelah zeolit. Material berpori ini memiliki kemampuan luar biasa: menyerap air dari udara, menyimpan karbon, hingga berperan dalam pengendalian polusi. Tak heran, tiga ilmuwan Susumu Kitagawa, Richard Robson, dan Omar Yaghi diganjar Nobel atas kontribusi mereka dalam mengembangkan MOF.
Prof Dr Ir. Andang Widi Harto, pakar teknik material dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, menyebut MOF sebagai material dengan struktur kristal yang sangat teratur, tersusun dari gugus logam yang berikatan dengan senyawa organik. “Kalau zeolit adalah senyawa anorganik kompleks, MOF lebih fleksibel karena menggabungkan logam dan organik. Fleksibilitas inilah yang membuatnya bisa disesuaikan untuk berbagai kebutuhan,” jelasnya.
Keunggulan MOF terletak pada sifatnya yang tunable—dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. Dari teknologi optoelektronik, sensor presisi tinggi, bioimaging, hingga penyimpanan gas dan katalisis kimia, material ini membuka jalan bagi beragam inovasi. Dengan kemampuan menyaring dan menyimpan molekul secara selektif, MOF dipandang sebagai fondasi penting bagi industri masa depan.
Prof. Andang menegaskan, riset MOF yang dimulai sejak 1990-an oleh Robson dan Yaghi telah menjadi dasar bagi penelitian lanjutan di seluruh dunia. Konsistensi mereka dalam mengembangkan struktur dan karakteristik MOF, menurutnya, layak mendapat pengakuan global. “Penemuan ini sebanding dengan material penting lain seperti semikonduktor dan superkonduktor. MOF memberi paradigma baru dalam dunia material,” ujarnya.
Dalam konteks Indonesia, peluang pemanfaatan MOF sangat besar. Kemampuannya menyerap dan menyimpan gas relevan dengan tantangan energi bersih dan pengolahan limbah. Prof. Andang menilai, riset MOF bisa menjadi kunci bagi efisiensi energi, inovasi sensor, hingga katalis lokal yang mendukung kemandirian teknologi nasional. “Saya berharap penelitian tentang MOF di Indonesia digarap lebih serius. Potensinya luar biasa untuk menjawab tantangan energi dan lingkungan kita,” tutupnya.