Awas, Kecanduan Game ganggu Kesehatan serta Sosial
- Istimewa
VIVA Jogja - Bermain gim (game) lebih dari 10 jam dalam seminggu terbukti membawa konsekuensi serius bagi kesehatan. Penelitian dari Curtin University, Australia, yang melibatkan 317 mahasiswa dari lima kampus dengan rata-rata usia 20 tahun, membagi responden ke dalam tiga kategori: pemain ringan (0–5 jam per minggu), pemain sedang (5–10 jam), dan pemain berat (lebih dari 10 jam). Hasil riset menunjukkan bahwa kelompok terakhir mengalami penurunan kondisi kesehatan yang signifikan.
Menurut Dr Heru Subekti, dosen Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, durasi bermain gim yang berlebihan baik di komputer maupun ponsel dapat memicu berbagai masalah fisik. Gangguan tidur, gaya hidup pasif, hingga risiko obesitas menjadi ancaman nyata. “Anak atau remaja yang menghabiskan waktu lebih dari 10 jam bermain gim memiliki kemungkinan lebih besar mengalami obesitas dibandingkan mereka yang jarang bermain,” ujarnya.
Heru menjelaskan bahwa kecanduan gim berawal dari pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang. Sensasi ini mendorong pemain untuk terus menambah durasi bermain, dari satu jam menjadi berjam-jam, hingga akhirnya muncul gejala adiksi. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga mental. WHO bahkan telah mengakui internet gaming disorder sebagai salah satu bentuk gangguan kesehatan jiwa.
Selain itu, penggunaan perangkat secara terus-menerus juga menimbulkan masalah ergonomis. Pemakaian mouse dalam waktu lama bisa menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome (CTS), sedangkan kebiasaan menunduk saat menatap layar ponsel atau komputer berisiko menimbulkan Text Neck Syndrome. “Posisi kepala yang menunduk dalam jangka panjang menambah beban pada leher, sehingga menimbulkan keluhan kronis,” jelas Heru.
Dampak negatif bermain gim berlebihan tidak berhenti pada kesehatan fisik dan mental. Heru menekankan bahwa aspek sosial juga terganggu. Anak dan remaja yang kecanduan sering kali kehilangan kemampuan berinteraksi, mengalami penurunan rasa percaya diri, hingga hubungan dengan keluarga dan teman menjadi renggang. Prestasi akademik pun ikut menurun, bahkan aspek spiritualitas bisa terdampak.
Sebagai solusi, Heru menyarankan agar durasi bermain gim dibatasi maksimal 5 jam per minggu. Menurutnya, jumlah tersebut masih memungkinkan anak dan remaja memperoleh manfaat positif, seperti kreativitas dan kebersamaan dengan teman sebaya, tanpa menimbulkan risiko kesehatan. “Gim tidak selalu buruk, asalkan digunakan secara bijak dan tidak berlebihan,” tambahnya.