Takjil Jogja Bikin Kangen! 5 Jajanan Tradisional yang Wajib Diburu Saat Ramadan
- VIVA Jogja/jogjaprov.go.id
VIVA Jogja - Bulan Ramadan kembali hadir, dan suasana Yogyakarta semakin semarak. Selain tradisi ngabuburit yang selalu dinantikan, berburu takjil autentik khas Jogja juga menjadi momen yang tak boleh dilewatkan.
Beragam jajanan tradisional hadir di sudut-sudut kota, menawarkan rasa manis, gurih, hingga hangat yang cocok untuk berbuka puasa. Salah satu takjil legendaris yang wajib dicoba adalah kicak. Jajanan khas Kampung Kauman ini selalu diburu setiap Ramadan.
Terbuat dari ketan kukus yang dicampur kelapa parut dan gula merah, kicak disajikan dengan potongan nangka yang harum. Rasanya manis dan legit, sangat pas untuk pembuka puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Selain itu, ada Wedang Sendang Ayu yang terkenal di kalangan pencinta minuman rempah. Salah satu yang populer adalah racikan Wedang Sendang Ayu Bu Marsui. Minuman ini memadukan jahe, kapulaga, cengkih, serai, kayu manis, kolang-kaling, air jeruk, dan gula batu.
Sensasi hangat dan segarnya dipercaya membantu menjaga kebugaran selama menjalani ibadah puasa. Tak lengkap rasanya berbuka tanpa kolak. Di Jogja, kolak pisang dan kolak waluh menjadi favorit. Pisang kepok atau labu kuning direbus dalam santan dan gula merah dengan aroma daun pandan yang khas.
Disajikan hangat, kolak memberikan rasa nyaman sekaligus energi tambahan setelah berpuasa. Bagi yang ingin takjil lebih mengenyangkan, jadah tempe khas Kaliurang bisa menjadi pilihan. Perpaduan jadah yang legit dengan tempe bacem manis gurih menciptakan rasa unik.
Tak heran, jajanan ini selalu laris saat Ramadan. Sementara itu, penggemar jajanan pasar juga bisa menikmati klepon dan cenil. Klepon berbentuk bola ketan berisi gula merah cair yang “meledak” saat digigit.
Sedangkan cenil memiliki tekstur kenyal dan warna-warni, disajikan dengan kelapa parut dan siraman gula merah. Ramadan di Jogja bukan sekadar soal berbuka, tetapi juga pengalaman kuliner yang sarat tradisi. Jajanan-jajanan ini bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.