Dari Hutan Tandus Jadi Primadona, Desa Wisata Kalibiru Bukti Wisata Berbasis Masyarakat yang Menginspirasi

Desa Wisata Kalibiru
Sumber :
  • VIVA Jogja/jogjaprov.go.id

VIVA Jogja - Yogyakarta tak hanya dikenal lewat Malioboro atau pantai selatan. Di sisi barat provinsi ini, tersimpan destinasi alam yang lahir dari semangat gotong royong masyarakat, yakni Desa Wisata Kalibiru.

img_title Bekalista, Ikon Transportasi Ramah Lingkungan Yogyakarta Resmi Mengaspal

Terletak di Perbukitan Menoreh, tepatnya di Desa Hagrowilis, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, kawasan ini menjadi salah satu ikon wisata alam berbasis komunitas yang sukses. Dari Kota Wates, ibu kota Kulon Progo, Kalibiru berjarak sekitar 10 kilometer.

Sementara dari pusat Yogyakarta, perjalanan dapat ditempuh dalam 60 hingga 90 menit. Akses jalan yang menanjak dan berkelok justru menjadi pengalaman tersendiri, karena sepanjang perjalanan pengunjung akan disuguhi pemandangan alam hijau khas Menoreh.

img_title Pembangunan Gedung Baru DPRD DIY Lampaui Target, Optimisme Rampung Tepat Waktu

Siapa sangka, kawasan ini dulunya merupakan hutan lindung yang rusak akibat pembalakan liar. Pada era 1950-an, Kalibiru masih alami dan belum tersentuh. Namun, memasuki tahun 1990-an, kondisi hutan semakin memprihatinkan.

Pada 1997, hutan ini bahkan menjadi tandus dan gersang. Melihat kondisi tersebut, warga sekitar berinisiatif memulihkan hutan melalui Komunitas Lingkar. Mereka menanam kembali berbagai jenis pohon, merawat lahan, dan menjaga kawasan secara berkelanjutan.

img_title Malioboro Bersiap Jadi Kawasan Pedestrian Bebas Emisi November 2026

Hasilnya, dalam lima tahun, Kalibiru kembali hijau. Bahkan beberapa mata air ditemukan, menjadi tanda keberhasilan upaya konservasi. Pada 14 Februari 2008, masyarakat resmi mendapat izin pengelolaan hutan kemasyarakatan selama 35 tahun.

Kini, hutan yang dulu rusak justru menjadi sumber kesejahteraan warga. Berada di ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut, Kalibiru menawarkan panorama memukau.

Saat cuaca cerah, pengunjung dapat menikmati pemandangan Waduk Sermo, hamparan perbukitan, pantai selatan, hingga gagahnya Gunung Merapi dari gardu pandang. Udara yang sejuk dan bebas polusi menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan perkotaan.

Selain keindahan alam, kehidupan sosial budaya masyarakat Kalibiru juga menjadi pesona. Warga dikenal ramah, santun, dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan serta gotong royong. Tradisi seni budaya lokal masih dilestarikan, mulai dari kesenian tradisional hingga berbagai kegiatan adat yang sesekali ditampilkan bagi wisatawan.

Komitmen menjaga lingkungan juga terlihat dari konsep pembangunan di kawasan ini. Seluruh fasilitas dibuat tanpa beton, melainkan menggunakan bambu, kayu, dan bahan alami lain.

Halaman Selanjutnya
img_title