Kurang Tidur Tidak Bisa Terbayar Seketika: Kenali Dampaknya pada Kesehatan
- Istimewa
VIVA Jogja - Tidur bukan sekadar waktu beristirahat, melainkan fondasi utama bagi keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental manusia. Banyak orang masih menganggap tidur hanya rutinitas harian, padahal kualitas tidur yang buruk dapat memicu berbagai masalah serius. Ketika seseorang bangun dengan tubuh pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau suasana hati tidak stabil, hal itu bisa menjadi tanda adanya gangguan metabolisme yang erat kaitannya dengan jam biologis tubuh.
Tubuh manusia memiliki mekanisme pengatur ritme biologis yang dikenal sebagai circadian rhythm. Mekanisme ini berfungsi menyinkronkan perubahan gelap dan terang dengan sistem hormon serta metabolisme. Menurut Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., Dokter Spesialis Kejiwaan dari FK-KMK UGM, ritme ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan tubuh. Ketika sistem berjalan normal, tubuh mampu menyesuaikan diri dengan siklus siang dan malam secara alami. Namun, jika pusat pengatur ini terganggu, tubuh kehilangan sinkronisasi sehingga muncul masalah pada emosi, metabolisme, bahkan risiko penyakit fisik.
Secara umum, manusia memiliki dua kronotipe tidur. Kronotipe pagi cenderung tidur lebih awal dan bangun lebih dini, sementara kronotipe malam baru tidur menjelang tengah malam dan sering kali lebih produktif di waktu larut. Keduanya tidak ada yang lebih baik atau buruk, selama durasi tidur terpenuhi sekitar tujuh hingga delapan jam. Namun, jika seseorang hanya bisa tidur menjelang pagi tanpa alasan jelas, kondisi tersebut dapat mengarah pada gangguan tidur yang berbahaya.
Salah satu miskonsepsi yang sering terjadi adalah anggapan bahwa utang tidur bisa langsung diganti dengan tidur panjang di akhir pekan. Menurut Ronny, metabolisme tubuh tidak bekerja seperti itu. Kekurangan tidur tidak bisa dibayar lunas dalam satu waktu, melainkan membutuhkan proses bertahap untuk kembali seimbang. Sama halnya dengan luka yang membutuhkan waktu untuk pulih, tubuh juga memerlukan waktu untuk menormalkan ritme biologis setelah mengalami defisit tidur.
Jika gangguan tidur berlangsung lama, tubuh akan mengalami kelelahan organik. Kondisi ini membuat respons tubuh bereaksi berlebihan akibat stres fisiologis. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, kulit kusam, penurunan daya tahan tubuh, hingga rentan terinfeksi penyakit. Dari sudut pandang psikiatri, gejala awal biasanya terlihat pada emosi. Mood menjadi tidak stabil, mudah sedih, mudah marah, atau naik turun tanpa sebab jelas. Jika hal ini dibiarkan, risiko gangguan kesehatan akan meningkat, baik secara mental maupun fisik.