Dua Dekade Berkarya, Phillip Iswardono Angkat Wastra Nusantara dalam Pergelaran Seni dan Mode di Yogyakarta
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
MAGELANG, VIVA Jogja – Perjalanan panjang seorang desainer dalam industri mode tidak hanya berbicara tentang tren dan estetika, tetapi juga tentang konsistensi menjaga identitas budaya. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Phillip Iswardono yang menandai 20 tahun kiprahnya melalui pergelaran bertajuk “Menyuluh Wastra Menoreh Jejak” yang akan digelar pada 2–3 Mei 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.
Sebagai rangkaian awal menuju pergelaran utama, digelar kegiatan Media Viewing dan konferensi pers di Mesastila Resort & Spa Magelang Jawa Tengah pada Kamis (16/04/2026). Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber penting, di antaranya penasehat acara Afif Syakur, Phillip Iswardono selaku desainer dan pendiri jenama Phillip, General Manager Mesastila Irwan, serta Project Manager Nyudi Dwijo. Kegiatan ini menjadi ruang pengenalan awal terhadap konsep, arah artistik, serta koleksi yang akan ditampilkan dalam pergelaran mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Afif Syakur menegaskan bahwa pergelaran ini tidak sekadar menjadi ajang selebrasi perjalanan karier seorang desainer, melainkan juga bentuk komitmen dalam merawat warisan budaya Indonesia. Ia menilai wastra bukan hanya produk tekstil, tetapi bagian dari identitas bangsa yang harus terus dijaga dan dihidupkan melalui berbagai medium, termasuk dunia mode.
Phillip Iswardono sendiri mengungkapkan bahwa karya-karya yang akan ditampilkan merupakan hasil eksplorasi panjang terhadap kekayaan tekstil tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Ia mengangkat inspirasi dari tujuh provinsi yang dinilai memiliki karakter wastra yang kuat dan beragam. Dalam koleksi tersebut, ia memadukan teknik tradisional dengan pendekatan desain kontemporer untuk menghadirkan karya yang tetap berakar pada budaya namun relevan dengan perkembangan zaman.
Phillip Iswardono
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
Menurutnya, wastra bukan sekadar kain, melainkan ruang yang menyimpan memori, identitas, serta perjalanan panjang budaya. Setiap karya yang dihadirkan menjadi representasi dari proses pencarian, kegelisahan, sekaligus kesetiaan terhadap nilai-nilai tradisi. Dalam pergelaran ini, sebanyak 74 rancangan telah dipersiapkan, dengan sebagian di antaranya diperkenalkan lebih awal melalui trunk show sebagai gambaran awal konsep keseluruhan.
Phillip menjelaskan bahwa pemilihan tujuh provinsi bukan tanpa alasan. Setiap daerah memiliki keunikan serta tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan wastra. Beberapa di antaranya masih bertahan kuat dengan tradisi, sementara yang lain mulai mengalami penurunan popularitas. Ia mencontohkan wastra dari Toraja yang kini semakin sulit ditemukan karena terbatasnya jumlah pengrajin dan lamanya proses produksi yang bisa mencapai dua tahun untuk satu lembar kain. Di sisi lain, kain dari daerah seperti Makassar dan Baduy justru mengalami peningkatan popularitas berkat eksplorasi para desainer yang membawanya ke panggung mode.