Waspada Herbal Sachet, “Alami” Tak Selalu Aman jika Dikonsumsi Berlebihan

ilustrasi penjelasan konsumsi berlebihan obat herbal
Sumber :
  • gemini ai

VIVA JogjaObat herbal kemasan cair kerap menjadi pilihan instan saat gejala masuk angin, batuk, atau mual datang tiba-tiba.

img_title Hari Bhayangkara ke-80, Polda DIY Dekatkan Layanan Kesehatan Gratis ke Warga Sosromenduran

Namun citra “alami” yang melekat justru berpotensi menyesatkan jika dikonsumsi tanpa kontrol dosis.

Di balik rasa hangat yang khas, sejumlah produk herbal diketahui mengandung kayu manis jenis Cassia (Cinnamomum burmannii) dengan kadar kumarin tinggi.

img_title Nicholas Saputra Jadi Brand Ambassador Tolak Angin, Ini Alasannya

Senyawa kumarin ini dalam jumlah berlebih bersifat hepatotoksik atau berisiko merusak organ hati.

Berbeda dengan kayu manis Ceylon yang kadar kumarinnya sangat rendah, jenis Cassia bisa mengandung hingga 1 persen kumarin atau ratusan kali lebih tinggi.

img_title Metileugenol pada Herbal Berbahan Daun Cengkeh Disorot, Berisiko Picu Kanker

Guru Besar Farmasi dari Universitas Padjadjaran, Muhaimin, menegaskan bahwa konsumsi bahan alami tetap harus memperhatikan dosis.

“Walaupun berbasis bahan alam, dosis itu tetap harus diperhatikan,” ujarnya mengingatkan.

Ia menyebut tidak semua zat dari bahan herbal bermanfaat bagi tubuh, bahkan bisa menjadi racun jika menumpuk.

“Kalau berlebihan, zat tersebut bisa terakumulasi dan berdampak buruk,” tegasnya.

Peringatan serupa juga datang dari European Food Safety Authority yang menetapkan batas aman konsumsi kumarin hanya 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari.

Sementara Federal Institute for Risk Assessment menyebut dosis kecil sekalipun dapat memicu kerusakan hati pada individu yang sensitif.

Temuan ilmiah dalam kajian Regulatory Toxicology and Pharmacology juga mengungkap risiko lain berupa nefrotoksisitas atau kerusakan ginjal akibat konsumsi berlebih.

Risiko tersebut semakin tinggi bagi pengguna obat pengencer darah karena interaksi kumarin dapat meningkatkan potensi perdarahan.

Pakar patologi forensik dari University of Adelaide, Roger Byard, menyoroti kesalahan persepsi masyarakat terhadap obat herbal.

“Pasien sering mengira mereka tidak terpapar bahan kimia berbahaya, padahal tetap ada risiko,” tulisnya dalam kajian ilmiah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa label “alami” tidak otomatis berarti aman tanpa batas.

Konsumsi berlebihan tanpa memahami kandungan justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan baru.

Kunci utamanya sederhana, membaca label dengan teliti dan mematuhi dosis yang dianjurkan.

Mengandalkan herbal sebagai solusi boleh saja, namun kehati-hatian tetap menjadi garis pembatas antara manfaat dan bahaya.