Warga Giriloyo Satukan Langkah Jaga Hulu Sungai Lewat Tebar Ikan dan Penanaman Pohon
- Istimewa
BANTUL, VIVA Jogja - Giriloyo Institute bersama warga RT 01 dan RT 02 Pedukuhan Giriloyo, Imogiri, Bantul, menggelar kegiatan konservasi lingkungan. Jalan sehat menuju Air Terjun Gedangan menjadi pembuka acara yang kemudian dilanjutkan dengan pelepasliaran ribuan bibit ikan dan penanaman pohon di kawasan hulu Sungai Giriloyo. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian warga terhadap kelestarian sumber air dan ekosistem sungai yang semakin terancam.
Sekitar 1.500 bibit ikan dilepas ke aliran sungai. Jenisnya beragam, mulai dari wader cakul, wader pari, wader kepek, wader derbang, hingga nilem, sidat, lele lokal, udang, dan kleting. Pelepasliaran ini diharapkan mampu menghidupkan kembali populasi ikan endemik yang kian berkurang akibat penangkapan ilegal dan berkurangnya debit air saat musim kemarau. Ketua panitia, Nur Maslin “Toble” Nuryadi, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan atas berkurangnya pepohonan di perbukitan Giriloyo serta matinya sejumlah mata air. Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan, ancaman kekeringan dan kesulitan air bersih akan semakin nyata.
Untuk itu, warga menanam pohon ringin di lereng perbukitan, terutama di jalur bekas aliran air dan area dekat sungai. Pohon ringin dipilih karena dikenal mampu menyimpan cadangan air dalam jumlah besar. Harapannya, penanaman ini menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang. Saat ini, warga Giriloyo masih mengandalkan sumur sebagai sumber air bersih. Namun, karena berada di kawasan perbukitan, sumur harus digali cukup dalam. Keberadaan pepohonan penyimpan air menjadi penopang penting agar ketersediaan air tetap terjaga di masa depan.
Selain menanam pohon dan menebar ikan, warga juga memasang papan larangan penangkapan ikan dengan cara-cara merusak, seperti menggunakan obat atau setrum. Direktur Giriloyo Institute, Mas’ud Fahlafi, menuturkan bahwa praktik penangkapan ilegal menjadi salah satu penyebab berkurangnya ikan di Sungai Giriloyo. Debit air yang kecil saat kemarau membuat ikan mudah ditangkap, sementara lokasi hulu yang jauh dari permukiman menyulitkan pengawasan. Karena itu, warga sepakat memberlakukan aturan larangan sekaligus sanksi sosial bagi pelanggar berupa kewajiban menebar bibit ikan kembali.