Kemarau Ekstrem dan Ancaman Heat Stroke: Pentingnya Kewaspadaan Orang Tua terhadap Kesehatan Anak

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer UMY dr Siti Rizki Fauziah
Sumber :
  • Dok Humas UMY

VIVA Jogja - Musim kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini tidak hanya menimbulkan kekeringan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, terutama pada anak-anak. Kondisi cuaca panas berkepanjangan membuat tubuh anak lebih rentan terhadap dehidrasi dan heat stroke, sebuah kegawatdaruratan medis yang dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Kementerian Kesehatan RI melalui akun resmi Instagram @kemenkes_ri pada 8 Juni 2026 telah mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak kesehatan selama musim kemarau, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak.

img_title Suhu Ekstrem Akibat El Nino, BPBD Yogyakarta Ingatkan Warga Jaga Kesehatan dan Antisipasi Kebakaran

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, M.Med.Sc., Sp.KKLP., menjelaskan bahwa sistem pengaturan suhu tubuh anak belum bekerja seefektif orang dewasa. Hal ini membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan akibat paparan panas. Menurutnya, luas permukaan tubuh anak yang relatif besar dibandingkan berat badan menyebabkan mereka lebih cepat menyerap panas dari lingkungan. Ditambah lagi, aktivitas fisik anak menghasilkan panas metabolik lebih tinggi, sementara mekanisme pendinginan melalui keringat belum optimal. “Tubuh anak menyerap panas lebih cepat, sementara sistem kelenjar keringat belum bekerja maksimal. Akibatnya, pelepasan panas menjadi lebih sulit,” jelasnya.

Selain faktor fisiologis, perilaku anak juga meningkatkan risiko. Mereka sering kali terlalu asyik bermain hingga tidak menyadari tanda-tanda awal kelelahan akibat panas. Anak-anak juga belum mampu mengenali kondisi tubuhnya sendiri, sehingga gejala seperti haus, pusing, atau lemas sering diabaikan. Dr. Siti menegaskan bahwa heat stroke bukan sekadar rasa panas biasa, melainkan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh yang dapat merusak organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal. “Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa sangat serius,” tegasnya.

img_title Bentuk Jaringan Paralegal Desa untuk Dampingi Kasus Perempuan dan Anak di Jepara

Gejala awal yang muncul biasanya berupa heat exhaustion atau kelelahan akibat panas, dengan tanda-tanda seperti keringat berlebihan, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, dan tubuh lemas. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat stroke yang ditandai dengan perubahan perilaku, kebingungan, mengantuk berlebihan, hingga pingsan. Bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan sehingga kewaspadaan orang tua sangat diperlukan.

Halaman Selanjutnya
img_title