Persijap di Ujung Tanduk, Gagal Menang Bisa Seret ke Jurang Degradasi
- VIVA Jogja/Josef Hidayat
JEPARA, VIVA Jogja — Persijap Jepara tak punya lagi ruang untuk terpeleset. Menjamu Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan ke-27 BRI Super League 2025/26 di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (11/4), Laskar Kalinyamat berada dalam tekanan penuh.
Tiga poin bukan target melainkan kewajiban. Dengan koleksi 22 poin dan masih tertahan di peringkat ke-14, posisi Persijap sangat rapuh. Selisih tipis dengan tim-tim di bawah membuat satu hasil buruk saja berpotensi menyeret mereka ke zona degradasi.
Pelatih Mario Lemos tak menutup fakta pahit tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap laga kini bernilai final bagi timnya. “Persaingan sangat ketat. Satu pertandingan bisa langsung mengubah posisi. Kami harus menang,” tegasnya.
Situasi makin menekan jika melihat tren lima laga terakhir. Meski tak terkalahkan, empat hasil imbang justru menjadi “jebakan halus” yang menahan Persijap di papan bawah cukup untuk bertahan, tapi gagal menjauh.
Lebih buruk lagi, bayang-bayang kekalahan 0-2 di pertemuan pertama dari Bhayangkara masih membekas. Artinya, lawan datang dengan kepercayaan diri, sementara Persijap membawa beban revans sekaligus tuntutan bertahan hidup.
Dengan hanya delapan laga tersisa, margin kesalahan nyaris nol. Gagal menang di kandang sendiri bukan hanya soal kehilangan poin—tetapi membuka pintu lebar menuju jurang degradasi. Di titik ini, Persijap tak lagi bicara soal strategi jangka panjang. Ini soal bertahan hidup. Menang, atau bersiap terseret.