Jogja Marathon 2026: 10.200 Pelari Antar DIY ke Panggung Sport Tourism Dunia

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan dan Sri Sultan HB X melepas peserta MJM 2026
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Ribuan pelari dari 17 negara berlari melintasi Candi Prambanan pada Minggu (21/06/2026), bukan sekadar mengejar garis finis, melainkan merayakan Yogyakarta sebagai panggung sport tourism dunia. Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 menghadirkan harmoni olahraga, budaya, pariwisata, dan ekonomi rakyat, menjadikan setiap langkah peserta sebagai bagian dari narasi besar yang meneguhkan DIY di mata internasional.

img_title Menkeu Purbaya dan Sri Sultan HB X Resmikan Becak Listrik Wisata di Alun-alun Selatan Yogyakarta

Sejak pukul 04.00 WIB, kawasan Prambanan telah dipadati baik peserta maupun penggembira. Suasana semakin semarak dengan pawai bregada prajurit keraton yang membuka rangkaian acara, menghadirkan sentuhan budaya khas Yogyakarta di tengah atmosfer kompetisi internasional. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir bersama Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan melepas peserta kategori marathon 42,195 kilometer pada pukul 04.45 WIB. Selanjutnya, peserta half marathon dilepas jajaran komisaris Bank Mandiri, sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X turut melakukan flag off untuk kategori 10K dan 5K Fun Run. Kehadiran Sri Sultan menjadi simbol dukungan kuat pemerintah daerah terhadap pengembangan olahraga sebagai bagian dari strategi pembangunan.

Lintasan yang ditempuh para pelari telah tersertifikasi Association of International Marathons and Distance Races (AIMS), melewati lanskap khas Yogyakarta mulai dari Candi Plaosan, Monumen Taruna, hamparan sawah, hingga desa-desa tradisional. Setiap langkah pelari seakan menyusuri narasi budaya yang hidup di tengah masyarakat.

img_title Sri Sultan Dorong Efisiensi dan Keselamatan dalam Pembangunan Gedung Baru DPRD DIY

Race Director MJM 2026, Pandu Bagus Buntaran, menjelaskan bahwa desain lintasan sengaja dirancang untuk menghadirkan cerita budaya Yogyakarta. Bahkan medali finisher mengangkat ikon Panggung Krapyak, bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. “Setiap kilometer di MJM adalah perjalanan mengenal filosofi dan peradaban Yogyakarta,” ujarnya.

Di sepanjang rute, warga desa menyambut dengan tarian tradisional, musik gamelan, dan senyum hangat. Pelari asing terpesona, banyak yang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen. “Saya merasa seperti berlari dalam festival budaya,” ujar seorang peserta asal Jepang. Kehadiran ribuan pelari mancanegara menjadikan MJM bukan hanya lomba, melainkan undangan terbuka untuk mengenal Jogja lebih dekat.

img_title DIY Jadi Inspirasi Penataan Kota Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045

Bagi pelaku UMKM, MJM adalah berkah. Warung makan, penginapan, hingga transportasi lokal merasakan lonjakan permintaan. Data Mandiri Institute menunjukkan, gelaran tahun lalu meningkatkan belanja masyarakat DIY hingga 11,6 persen secara mingguan. Dengan jumlah peserta yang lebih besar tahun ini, dampaknya diperkirakan semakin besar.

Halaman Selanjutnya
img_title