Lestarikan Batik Lewat Isyarat Jemari, Cerita Ruang Setara untuk Siswa Difabel di Rumah Batik TBIG Pekalongan
- Viva Jogja
PEKALONGAN, VIVA Jogja – Di sebuah ruang membatik di Rumah Batik TBIG Pekalongan, selembar kain putih bukan satu-satunya yang sedang dibentuk.
Di sana, sebuah bahasa baru perlahan lahir.
“Nyanting.”
“Nyorot.”
Bagi kebanyakan pembatik, istilah itu sudah biasa.
Namun bagi siswa tunarungu, dua kata tersebut tidak pernah memiliki padanan dalam bahasa isyarat.
Karena itulah, para pendamping bersama para siswa mulai menyepakati gerakan-gerakan baru.
Setiap istilah teknis diterjemahkan menjadi bahasa isyarat yang mudah dipahami agar proses belajar dapat berjalan tanpa hambatan.
“Untuk siswa tunarungu tantangannya ada di komunikasi. Banyak istilah teknis membatik yang belum memiliki bahasa isyarat.
Jadi kami bersama-sama membangun bahasa baru agar mereka memahami setiap proses,” tutur Trainer Difabel Rumah Batik TBIG Pekalongan, Joko Padmanto.
Pendekatan itu menjadi salah satu cara Rumah Batik TBIG membuka ruang belajar yang setara bagi penyandang disabilitas.
Sejak lima tahun terakhir, sedikitnya 50 siswa difabel telah mengikuti kelas membatik.
Mereka berasal dari jenjang SMP hingga SMA dan belajar sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak semua tantangan berhenti pada komunikasi.
Joko menjelaskan, siswa dengan disabilitas intelektual memerlukan pendekatan yang berbeda.
Setiap anak memiliki cara belajar yang tidak sama sehingga metode pembelajaran harus disesuaikan satu per satu.
“Kami harus menemukan cara belajar yang paling tepat untuk setiap anak. Tidak bisa disamakan. Kendala itu harus kami atasi seefektif mungkin,” ujarnya.
Rumah Batik TBIG juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah luar biasa untuk memperluas kesempatan belajar.
Harapannya, para siswa memiliki lebih banyak referensi keterampilan sebelum memasuki dunia kerja.
“karena masih usia pelajar, mereka sedang mengeksplorasi diri. Belajar keterampilan yang berorientasi pekerjaan menjadi bekal penting untuk masa depan mereka,” katanya.
Belajar membatik pun tidak berhenti pada pengenalan canting atau malam.
Siswa yang telah menguasai teknik dasar akan masuk ke Program Inkubasi, sebuah kelas lanjutan yang berorientasi pada kewirausahaan.
Di sana mereka belajar menjadikan batik sebagai produk yang memiliki nilai jual.
Saat ini terdapat sekitar sepuluh peserta aktif di kelas inkubasi, termasuk sejumlah alumni.