Tak Hanya Mengabdi, Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Buka Akses BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Keagamaan
- Viva Jogja
PEKALONGAN, VIVA Jogja –Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan tahun ini hadir dengan pendekatan berbeda.
Selain menjalankan program pemberdayaan masyarakat, ratusan mahasiswa juga mendapat tugas menjadi penghubung agar pekerja keagamaan di desa-desa bisa memperoleh perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan melalui program Eco-Masjid.
Program tersebut resmi diluncurkan bersamaan dengan pelepasan mahasiswa KKN Angkatan 65 dan Program Pengalaman Lapangan (PPL) Terintegrasi di Student Center UIN Gus Dur, Rabu (15/7/2026).
Melalui kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pekalongan, mahasiswa akan mengedukasi masyarakat mengenai sedekah sampah sekaligus mendampingi proses pendaftaran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi marbot, imam, takmir, khatib, muazin, hingga pekerja sosial keagamaan lainnya.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pekalongan, Widhi Astri Aprillia Nia, mengatakan sinergi dengan UIN Gus Dur telah berlangsung sejak 2023.
Saat itu, BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi mahasiswa yang menjalankan KKN maupun PPL.
Menurutnya, manfaat program tersebut sudah dirasakan langsung oleh mahasiswa yang mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas di lapangan.
“Kerja sama ini sudah berjalan sejak tahun 2023. Kami melindungi mahasiswa KKN dan PPL UIN Gus Dur melalui program JKK dan JKM.
Bahkan manfaatnya sudah benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang mengalami kecelakaan kerja saat menjalankan tugas di lapangan,” kata Widhi.
Keberhasilan berbagai program pengabdian masyarakat yang dijalankan UIN Gus Dur, termasuk KKN Tematik bersama Kementerian ATR/BPN pada 2025, menjadi salah satu alasan BPJS Ketenagakerjaan memperluas kolaborasi.
Kali ini, fokusnya diarahkan pada perlindungan pekerja sektor informal, khususnya pekerja sosial keagamaan yang selama ini banyak belum tercakup dalam program jaminan sosial.
Widhi mengakui menyatukan dua institusi dengan latar belakang berbeda bukan tanpa tantangan.
Namun, kesamaan visi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi modal utama lahirnya program tersebut.
“Tantangan pasti ada. Kami harus menyamakan tujuan serta menyesuaikan kemampuan masing-masing.
Namun kami merasakan ketulusan dan kepedulian UIN Gus Dur terhadap nasib pekerja keagamaan di Pekalongan. Hal itu membuat kolaborasi ini sangat memungkinkan untuk diwujudkan,” ujarnya.