Indosat Ooredoo Hutchison Turun Tangan, Banjiri Bantuan untuk Korban Tanah Bergerak Brebes

Indosat Ooredoo Hutchison hadir di lokasi bencana Brebes
Sumber :
  • IST

BREBES, VIVA Jogja - Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) kembali membuktikan kepeduliannya terhadap masyarakat Indonesia dengan menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana tanah bergerak di Brebes, Jawa Tengah.

img_title Trafik Data Indosat Melonjak 20% Saat Mudik Lebaran 2026

Bencana yang menghancurkan infrastruktur dan memaksa ratusan warga mengungsi ini langsung direspons cepat oleh Indosat dengan menyalurkan bantuan ke Pos Pengungsian Lapangan Futsal Gunung Poh dan Dusun Krajan.

Kehadiran Indosat bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, melainkan membawa semangat baru bagi para korban.

img_title Indosat Ooredoo Hutchison Pecahkan Rekor MURI Lewat Siaran Siniar di Bus Berjalan 13 Jam Nonstop

"Doa dan simpati kami tujukan kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak. Kehadiran kami bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga semangat kebersamaan," ujar Fahd Yudhanegoro, EVP-Head of Circle Java IOH, Senin 28 April 2025.

Dalam aksi ini, Indosat menyalurkan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, mie instan, hingga obat-obatan dan perlengkapan bayi.

img_title Gandeng NVIDIA dan Indosat, UGM Riset AI untuk Medis dan Smart City

Tak ketinggalan, selimut hangat, pakaian layak pakai, dan barang kebutuhan dasar lainnya juga dibagikan untuk meringankan beban para pengungsi.

Indosat juga memahami pentingnya komunikasi di masa krisis.

Mereka membagikan kartu perdana IM3 dan Tri secara cuma-cuma, memastikan para korban tetap terhubung dengan keluarga dan informasi penting.

Langkah ini dianggap krusial untuk mempercepat proses evakuasi, pemulihan, dan membangun rasa aman di tengah situasi penuh ketidakpastian.

Tidak hanya kebutuhan fisik, kesehatan mental korban, terutama anak-anak, menjadi perhatian utama Indosat.

Melalui kegiatan interaktif seperti permainan edukatif, sesi mendongeng, dan hiburan ringan, Indosat berupaya menghapus air mata dan trauma anak-anak yang terdampak bencana.

Tami, bocah 9 tahun dari Desa Babakan, tak bisa menyembunyikan keceriaannya.

"Om-nya lucu banget, seneng olih jajan akeh," katanya polos, matanya berbinar setelah mengikuti sesi dongeng.

Ketika ditanya tentang harapannya, Tami menjawab sederhana, "Pengen nonton TV kaya nang umah."

Sebuah keinginan kecil yang menggambarkan kerinduan akan kehidupan normal yang dulu mereka jalani.

Warsinah (47), salah satu pengungsi dari Desa Babakan, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan.

"Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti untuk kami. Harapan saya ke depan bisa punya rumah tinggal lagi dan hidup seperti sebelum kejadian ini," ujarnya penuh harap.

Halaman Selanjutnya
img_title