Nama Terseret Kasus TPPO Kamboja, Ini Kata PT RNT Utama Indonesia
- IST
TEGAL, VIVA Jogja - Kabar mengenai dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menyeret nama Muhammad Bagas Saputra (22) asal Sukabumi ke Kamboja menyulut perhatian publik.
Namun, ada satu nama perusahaan yang ikut terseret dalam pusaran kasus ini: PT RNT Utama Indonesia.
Perusahaan ini akhirnya buka suara, menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak terkait dengan keberangkatan Bagas ke Kamboja, apalagi disebut mengirimnya sebagai tenaga kerja nonformal.
Ahmad Faisal Amin, Legal Corporate PT RNT Utama Indonesia, menyampaikan secara tegas bahwa hubungan kerja perusahaan dengan Bagas telah resmi berakhir sejak 27 Juni 2024.
"Bagas memang pernah jadi awak kapal melalui kami, tapi sejak 27 Juni 2024 kami sudah tidak punya hubungan kerja dengan yang bersangkutan," ujar Faisal pada Minggu malam, 6 Juli 2025.
Faisal bahkan menunjukkan bukti tiket pemulangan Bagas ke Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab terakhir perusahaan.
“Setelah itu kami tidak tahu-menahu lagi soal keberangkatan dia ke Kamboja,” tambahnya.
Viralnya foto Bagas mengenakan seragam perusahaan membuat citra PT RNT tercoreng di mata publik dan mitra kerja.
Namun pihak keluarga Bagas justru menyampaikan hal mengejutkan.
Muhammad Rangga Saputra, kakak kandung Bagas, saat ditemui perwakilan PT RNT di Sukabumi, menyatakan bahwa keluarga tidak pernah menyebut nama perusahaan ke publik.
Bahkan, mereka membantah telah menyebar foto Bagas mengenakan atribut perusahaan.
“Pihak keluarga menyampaikan bahwa mereka tidak pernah menyebut nama perusahaan dalam kasus yang menimpa Bagas,” jelas Faisal.
Nama baik PT RNT Utama Indonesia kini berada di ujung tanduk.
Perusahaan mengaku menerima banyak pertanyaan dari rekanan hingga masyarakat sekitar yang mulai meragukan kredibilitas mereka sebagai agensi awak kapal resmi.
“Kami sangat menyayangkan pemberitaan yang berkembang liar ini. Padahal tidak ada hubungan antara kami dengan keberangkatan Bagas ke Kamboja,” tegas Faisal.
Ia berharap masyarakat bisa objektif dan tidak terjebak dalam arus informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Faisal juga menyampaikan terima kasih kepada Asosiasi Pelaut Profesional Indonesia (AP2I) dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Sukabumi yang memfasilitasi pertemuan dengan keluarga.