Dandim 0712/Tegal Luncurkan Buku “Banteng Loreng Melebur” di Monumen GBN Slawi

Dandim 0712/Tegal, Letkol Inf Suratman
Sumber :
  • VIVA Jogja

SLAWI, VIVA Jogja – Malam resepsi Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Kabupaten Tegal menjadi momen bersejarah. 

img_title Desa Kambangan Raih Juara I Koperasi Merah Putih Kabupaten Tegal

Dandim 0712/Tegal, Letkol Inf Suratman, resmi meluncurkan buku karyanya berjudul Banteng Loreng Melebur di Monumen Gerakan Banten Nasional (GBN) Procot, Kecamatan Slawi, Minggu 17 Agustus 2025.

Acara peluncuran ini disaksikan langsung oleh Bupati Tegal, Wakil Bupati, Forkopimda, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat. 

img_title Bukan PWI Biasa, Surakarta Punya Hak Suara di Kongres, Sri Hartanto Jadi Ketua 2026-2031

Resepsi HUT RI menjadi semakin istimewa dengan hadirnya karya literasi yang merangkum sejarah perjuangan rakyat Tegal.

Letkol Suratman mengungkapkan, ide penulisan buku ini muncul sejak ia menjabat sebagai Dandim. 

img_title Sejarah baru Nusantara Futsal League 2026 Digelar di Jepara, Tujuh Klub Berebut Tiket ke Putaran Nasional

Inspirasi lahir dari keberadaan tiga monumen GBN di Slawi, Lebaksiu, dan Bumijawa yang sarat relief perjuangan rakyat melawan DI/TII pada 1950-an.

“Buku ini saya susun berdasarkan relief monumen GBN yang sering tidak dipahami masyarakat. Alhamdulillah bertepatan dengan HUT ke-80 RI, karya ini bisa diluncurkan untuk memberi manfaat,” ujarnya.

Yang menarik, dalam buku ini juga dibahas falsafah Banteng Loreng Binoncengan, istilah khas Tegal yang tak ditemukan dalam literatur resmi, termasuk arsip Belanda. 

Istilah ini muncul setelah pembentukan kompi TNI untuk menghadang gerakan DI/TII yang melintasi wilayah Tegal.

“Loreng itu melambangkan tentara, sementara banteng adalah rakyat. Jadi pertempuran yang digambarkan di relief GBN merupakan simbol bersatunya rakyat dan tentara,” jelasnya.

Suratman menambahkan, banyak warga yang belum memahami sejarah juang leluhurnya sendiri. 

Buku ini menjadi sarana agar generasi muda bisa membaca peristiwa sejarah dengan mudah. 

“Apalah arti monumen kalau kita tidak bisa membaca maknanya,” tegasnya.

Pada tahap awal, 15 eksemplar buku dicetak untuk launching. 

Ke depan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal akan memperbanyak cetakan agar bisa disebarkan ke sekolah dan desa/kelurahan.

Buku ini ditulis dalam waktu 9 bulan dengan riset lapangan, penelusuran cerita rakyat, hingga studi literatur. 

Desainnya dibuat full colour agar lebih menarik dan mudah dipahami generasi muda.

Selain mengangkat sejarah Banteng Loreng, Suratman juga menyinggung kondisi Monumen GBN Bumijawa yang kini rusak dan tertimbun bangunan. 

Halaman Selanjutnya
img_title