Gandeng Investor Global, Sampah Pekalongan Raya Siap Jadi Listrik Ramah Lingkungan
- Viva Jogja
Pekalongan –Empat daerah di kawasan Pantura Jawa Tengah resmi bersepakat mengubah krisis sampah menjadi sumber energi listrik. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kabupaten Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang di Hotel Aston Syariah Pekalongan, Rabu (28/1/2026).
Langkah kolaboratif tersebut akan diwujudkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berbasis teknologi Waste to Energy (WTE). Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, ditunjuk sebagai pusat pengolahan sampah regional.
Proyek bernilai investasi sekitar 300 juta dolar AS (lebih dari Rp1 triliun) ini sepenuhnya didanai investor swasta dengan skema Build Operate Transfer (BOT), sehingga aset akan kembali ke pemerintah daerah setelah kontrak 25–30 tahun berakhir.
Staf Khusus Kementerian Lingkungan Hidup, Erwin Izzarudin, menegaskan PLTSa ditargetkan mampu mengolah 1.000–1.200 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 20 megawatt (MW).
Ia menekankan, keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen daerah dalam menjaga konsistensi pasokan sampah.
“Kalau satu daerah macet mengirim sampah, dampaknya besar. Jadi yang paling krusial adalah kekompakan dan keharmonisan antar daerah,” ujarnya.
Kepala DLHK Jawa Tengah, Widi Hartanto, menyebut Pekalongan Raya menjadi pionir kedua setelah Tegal Raya dalam transformasi sampah menjadi energi.
Dari total 6,3 juta ton sampah per tahun di Jawa Tengah, baru 41 persen yang tertangani secara layak.
“Masih banyak TPA yang masih open dumping. Itu tidak bisa lagi dipertahankan. Namun, daerah juga harus siap secara logistik, baik anggaran maupun armada,” jelasnya.
Perwakilan mitra investasi dari Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC), Xin Jun, menilai teknologi WTE sebagai solusi nyata atas masalah penumpukan sampah perkotaan.
“Dengan sistem yang jelas dan kebijakan profesional, sampah bisa menjadi sumber daya berkelanjutan, bukan sekadar beban,” katanya.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Batang, Asri Hermawan, menyebut proyek ini sebagai “napas segar” bagi daerahnya.
Batang siap menyuplai 200 ton sampah per hari dari total potensi 430 ton yang dihasilkan warganya.
“Langkah berikutnya adalah menghitung potensi secara detail dan memastikan kontribusi yang diterima Batang setelah MoU berjalan,” ungkapnya.