Dekranasda Batang Tegaskan Keaslian Motif Batik Rifa’iyah Tetap Terjaga

Motif Batik Rifaiyah Batang Diarsipkan
Sumber :
  • Viva Jogja

Batang –Upaya menjaga warisan budaya Batik Rifa’iyah terus dilakukan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Batang.

img_title Plot Twist! Habis Nangisin Film Children of Heavens, 63 Siswa SDN 3 Bawang Dapet Sepatu dari DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo

Belasan motif batik berusia ratusan tahun yang telah terdokumentasi kini dipastikan keasliannya melalui pengecekan langsung di Gedung Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Batang, Selasa (3/2/2026).  

Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, menegaskan bahwa pengarsipan 16 motif Batik Rifa’iyah yang dilakukan sejak 2025 merupakan langkah penting agar warisan budaya ini tidak hilang bersama para perajinnya.

img_title Tolak Ketua PAC Baru, Musancab PDI Perjuangan Batang Ricuh, 21 Ranting Walkout

“Kami memastikan motif-motif tersebut tersimpan dengan baik. Ada yang dipajang dalam pigura, ada pula yang disimpan dalam pipa khusus dengan keterangan motif yang jelas,” ujarnya.  

Plt Kepala Disperpuska Batang, Puji Setyowati, membenarkan bahwa seluruh motif telah terdokumentasi.

img_title Pegiat Literasi Batang Gaungkan Penyelamatan Batik Rifaiyah di Tengah Krisis Regenerasi

"Enam motif kami pajang dalam pigura, sementara sisanya disimpan dalam pipa khusus karena keterbatasan ruang. Semua dilukis ulang di atas kertas khusus yang mampu bertahan hingga ratusan tahun,” jelasnya.  

Selain koleksi batik, Gedung Arsip Batang juga menyimpan berbagai dokumen bersejarah, termasuk foto pendiri Kadipaten Batang pada masa kolonial.

Hal ini memperkuat peran arsip sebagai pusat pelestarian sejarah daerah.  

Pegiat Batik Rifa’iyah, Miftakhutin, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah.

Menurutnya, pendokumentasian ini menjadi jaminan agar motif asli tetap bisa dilihat generasi mendatang.

“Kalau pembatiknya sudah tidak ada, motif tetap tersimpan di Gedung Arsip. Kertas roti yang digunakan bahkan diyakini mampu bertahan lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.  

Meski sudah terdokumentasi, Miftakhutin menekankan masih ada pekerjaan besar: regenerasi.

Ia bersama komunitas batik terus menggelar pelatihan di sekolah maupun di rumahnya untuk menumbuhkan minat generasi muda.

"Kami ingin anak-anak muda mau meneruskan batik ini, bukan hanya menyimpannya di arsip,” tegasnya.  

Adapun 16 motif yang berhasil diarsipkan antara lain Pelo Ati, Kotak Gambir, Banji, Kupat Lepet, Tambal, Kawung Jenggot, Dapel, Romo Gendong, Jeruk No’i, Kotak Kitir, Gemblong Sairis, Kawung Ndog, Ila Ili, dan Nyah Pratin.