Batasi Makanan Manis, Dokter RSUD Batang Ungkap Kasus Diabetes Usia 10–17 Tahun
- Viva Jogja
BATANG, VIVA Jogja –Lonjakan konsumsi makanan dan minuman manis di kalangan anak dan remaja menjadi sorotan tenaga medis di Kabupaten Batang.
Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, Tan Evi Susanti, menekankan pentingnya penerapan pola gizi seimbang sejak dini untuk mencegah penyakit metabolik, termasuk diabetes.
Menurutnya, anak-anak tetap diperbolehkan menikmati makanan atau minuman manis, namun jumlahnya harus dikendalikan.
“Boleh minum teh manis, tapi jangan ditambah lagi dengan permen atau kue manis. Jangan sampai menumpuk,” ujarnya saat ditemui di RSUD Batang, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, konsep gizi seimbang menuntut perhatian terhadap takaran harian gula, garam, lemak, dan protein.
Banyak orang tua maupun anak belum menyadari bahwa kandungan gula tersembunyi dalam berbagai jajanan populer.
“Semua ada porsinya. RSUD Batang bahkan menemukan kasus diabetes tipe 2 pada anak, yang umumnya dipicu obesitas,” jelasnya.
Tan Evi menambahkan, kasus diabetes pada anak di Batang ditemukan sejak usia 10 tahun hingga remaja 14 tahun, serta beberapa kasus terkait obesitas pada usia sekitar 17 tahun.
“Ada empat kasus pada usia 10–14 tahun. Selain itu, ada pula remaja yang mengalami obesitas hingga berujung diabetes,” ungkapnya.
Ia menekankan, penanganan pasien dilakukan melalui program penurunan berat badan yang terbukti membantu menstabilkan kadar gula darah.
Sementara pasien dengan diabetes bawaan membutuhkan pengawasan ketat serta terapi insulin rutin.
Melihat tren tersebut, Tan Evi berharap edukasi gizi seimbang terus digencarkan, baik kepada orang tua maupun anak.
“Kebiasaan konsumsi tinggi gula harus dikendalikan sejak dini agar tidak menimbulkan masalah kesehatan di masa depan,” tegasnya.