SPPG di Batang Mendadak Stop Operasional MBG, Ribuan Siswa Terdampak
- ist
BATANG, VIVA Jogja – Satuan Pemenuhan Gizi Nasional (SPPG) Kauman 1 Kabupaten Batang mendadak menghentikan operasional sejak 9 Februari 2026.
Penghentian operasional tersebut membuat lebih dari 3.100 siswa dari 14 sekolah belum menerima distribusi makanan bergizi seperti biasanya.
PIC SPPG Kauman 1, Ananta Mahendra, menyatakan keputusan itu diambil karena dana bantuan pemerintah (Banper) dari Badan Gizi Nasional (BGN) belum dicairkan.
“SPPG kami berhenti sementara karena dana Banper dari pemerintah belum turun, sedangkan tanpa dana operasional kami tidak bisa memproduksi dan mendistribusikan MBG,” ujar Ananta, Kamis 12 Februari 2026.
Ia menjelaskan dana Banper selama ini menjadi penopang utama operasional dapur, mulai dari pembelian bahan baku, biaya distribusi, hingga kebutuhan teknis produksi harian.
Menurutnya, pencairan dana biasanya dilakukan setiap dua pekan sekali.
Namun hingga awal pekan ini, dana untuk periode terbaru belum diterima.
“Kami tidak bisa memaksakan berjalan karena sistem pembiayaan sepenuhnya bergantung pada dana tersebut,” katanya.
SPPG Kauman 1 melayani 14 sekolah dengan total 3.100 penerima manfaat.
Penerima manfaat tersebut terdiri dari siswa PAUD hingga sekolah dasar.
Terhentinya dapur produksi otomatis menghentikan distribusi makanan yang selama ini menjadi asupan tambahan bagi para siswa.
Berdasarkan indeks MBG dari BGN pusat, porsi kecil dialokasikan sebesar Rp8.000 per paket.
Sementara porsi besar dialokasikan sebesar Rp10.000 per paket.
Porsi kecil diberikan kepada balita hingga siswa kelas 3 SD.
Porsi besar diperuntukkan bagi siswa kelas atas.
“Karena jumlah penerima manfaat besar, kebutuhan anggaran juga besar, sehingga ketika dana belum cair kami benar-benar tidak punya ruang untuk tetap beroperasi,” jelas Ananta.
Ia menegaskan penghentian ini bersifat sementara dan bukan penghentian permanen program MBG di Batang.
Selama masa jeda operasional, pihaknya melakukan pembenahan fasilitas dapur.
Pembenahan dilakukan agar seluruh sarana produksi sesuai standar operasional prosedur terbaru dari BGN.
“Kami gunakan waktu ini untuk memperbaiki fasilitas dan memastikan semuanya sesuai SOP baru, sehingga ketika dana cair kami bisa langsung berjalan tanpa hambatan,” ujarnya.
Ananta menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh sekolah penerima manfaat.