Ketua DPRD Demak Prihatin Tragedi Bunuh Diri Bocah 12 Tahun, Zayinul Fata: Jaga Lisan
- IST
DEMAK, VIVA Jogja - Kematian tragis bocah perempuan berumur dua belas tahun mengguncang nurani publik Demak.
Ketua DPRD Demak, Zayinul Fata, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa ini.
Tragedi ini menjadi viral setelah tangkapan layar percakapan ibu dan anak tersebar.
Zayinul Fata mengajak seluruh orang tua mengevaluasi total pola komunikasi keluarga.
Kejadian memilukan ini adalah pukulan berat bagi kita semua sebagai pendidik.
Pola asuh yang keras harus segera diubah menjadi dialog penuh kasih sayang.
Kekerasan Verbal Bukan Solusi Mendidik Anak
Politisi PKB ini menegaskan bahwa kekerasan lisan sangat dilarang dalam agama.
“Kita harus berkata lemah lembut kepada anak kandung sendiri,” ujar Zayin, Sabtu 14 Februari 2026.
Beliau mengutip ayat suci tentang perintah bicara santun bahkan kepada musuh.
"Sebagaimana firman-Nya dalam surat Thaha ayat 44, qaulan layyinan, yang artinya berkatalah dengan lemah lembut. Bahkan kepada Firaun saja diperintahkan lembut, apalagi kepada darah daging sendiri,”ucapnya.
Apalagi kepada darah daging sendiri, tutur kata harus dijaga dengan baik.
Mendidik anak dengan lisan yang melukai hanya akan meninggalkan trauma mendalam.
Zayinul Fata mengingatkan bahwa ketikan di gawai juga bisa membunuh karakter.
Fenomena Gunung Es Kesehatan Mental Remaja
Masyarakat diminta tidak langsung menghakimi orang tua korban secara sepihak saja.
Persoalan mental anak seringkali menyerupai fenomena gunung es yang sangat misterius.
Mungkin ada beban sekolah atau tekanan lingkungan yang tidak pernah terucap.
Faktor pergaulan luar juga bisa menjadi pemicu beban mental yang berat.
Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dipendam oleh sang anak.
Kesehatan mental anak saat ini memerlukan perhatian lebih dari sekadar materi.
Mendorong Ruang Konseling Aman di Sekolah
Pemerintah daerah dan institusi pendidikan harus lebih peka terhadap kondisi siswa.
Zayin mendorong adanya ruang konseling yang ramah anak di setiap desa.
Sekolah harus menjadi tempat bercerita yang aman bagi anak-anak yang bermasalah.
Generasi masa kini memiliki tantangan mental yang jauh berbeda dibanding dulu.
“Anak-anak butuh didengar, bukan sekadar didikte oleh kemauan orang tua,” tegasnya.