134 Santri Diduga Keracunan Makanan MBG, Dinkes Demak : Masih Menunggu Hasil Lab
- IST
DEMAK, VIVA Jogja – Ratusan santri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu yang sama. Hingga saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sebanyak 134 orang menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
Kepala Dinkes Demak, dr. Ali Maimun, mengatakan para korban berasal dari sejumlah pondok pesantren di Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebonagung, seperti Pondok Pesantren Asnawiyah, Hizmatul Qur’an, dan Hidayatul Mubtadiin.
“Keluhan para santri hampir sama, yaitu mual, muntah, dan pusing. Karena makanannya sama dan gejalanya serupa, maka kuat dugaan ini adalah keracunan makanan,” kata Ali, Selasa (21/4/2026).
Peristiwa ini pertama kali diketahui pada Minggu pagi. Petugas kesehatan langsung membuka posko penanganan di Pondok Pesantren Asnawiyah dan melakukan evakuasi terhadap korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Sejumlah korban kemudian dirujuk ke beberapa rumah sakit, di antaranya RS PKU, RS Getas Pandawa, RS Sultan Fatah, RS Sunan Kalijaga, dan RS NU, serta sebagian ditangani di Puskesmas Kebonagung.
Dari total 134 pasien, sebanyak 68 orang menjalani rawat inap, sementara 66 lainnya menjalani rawat jalan. Beberapa di antaranya diketahui merupakan ibu hamil dan menyusui.
“Kalau dihitung secara keseluruhan, termasuk yang tidak dirujuk dan langsung pulang, jumlahnya bisa mencapai 186 orang,” ujarnya.
Dinkes Demak kini masih melakukan pendataan lanjutan, termasuk tambahan laporan dari wilayah Solowire dan Prigi.
Selain penanganan medis, Dinkes juga melakukan investigasi terhadap Satuan Penyelenggara Pangan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan. Pemeriksaan meliputi tata letak bangunan, proses pengolahan makanan, hingga sanitasi lingkungan.
“Hasil sementara, secara umum sudah sesuai standar, baik dari proses penerimaan bahan, pencucian, pengolahan, hingga penyajian makanan,” jelasnya.
Namun, terdapat catatan terkait menu nasi goreng yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor pemicu. Menu tersebut sebelumnya telah diingatkan untuk tidak disajikan, tetapi informasi itu tidak sampai ke pengelola.
Di sisi lain, ditemukan pula bahwa sebagian makanan yang seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah justru dibawa ke pondok pesantren, yang berpotensi memengaruhi kualitas makanan.