Kisah Muhammad Salwa, Musisi Difabel Asal Kudus Menembus Panggung Ibukota

Salwa memainkan alat musik dengan kedua kakinya dalam sebuah konser musik di Jakarta.
Sumber :
  • Doc

KUDUS, VIVAJogja- Di balik sosok seorang musisi yang mampu memainkan alat musik dengan cara yang tidak biasa, terdapat perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Itulah kisah Muhammad Salwa Aristotel, pemuda kelahiran Kudus yang sejak lahir hidup sebagai penyandang disabilitas fisik. 

img_title Congrat ! 36 Pebulutangkis Muda Indonesia Raih Super Tiket ke Babak Karantina di PB Djarum Kudus

Tanpa kedua tangan, Salwa justru menemukan jalan hidupnya melalui seni, khususnya musik. Salwa lahir di Kudus pada 17 September 2001. Sejak kecil, ia harus beradaptasi dengan kondisi tubuhnya. 

Aktivitas yang bagi kebanyakan anak dilakukan dengan tangan, bagi Salwa dilakukan menggunakan kaki. Menulis, menggambar, hingga berbagai kegiatan sehari-hari menjadi latihan panjang yang membuatnya tumbuh mandiri.

img_title Pos Kamling Jadi Lapak Judi, Aksi Enam Penjudi Kelas Teri di Kudus Dibongkar Polisi

Namun, Salwa tidak membiarkan keterbatasan fisik menentukan masa depannya. Masa kecil Salwa di Kudus Jawa Tengah, menjadi awal pembentukan karakternya. 

Ia pernah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Purwasari, Kudus. Selain belajar seperti anak-anak lainnya, Salwa juga dikenal memiliki kemampuan akademik. 

img_title Miras Berserakan di Kaki Pegunungan Muria Kudus, Polisi Tergerak Swepping Penjualnya

Bahkan beberapa kali, ia mewakili sekolah dalam perlombaan mata pelajaran. Melihat talenta yang dimiliki Salwa, salah seorang guru SLB setempat, Mamik Hapsari, memotivasi kedua orang tua Salwa untuk menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Kemampuan dan rasa ingin tahunya yang besar, kemudian mendorong Salwa melanjutkan pendidikan ke Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Surakarta. Perpindahan dari Kudus ke Solo, menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan Salwa. 

Meski berada jauh dari kedua orangtuanya yang tinggal di wilayah Kecamatan Undaan Kudus, Salwa pun harus mandiri saat tinggal di asrama YPAC Surakarta

Salwa tinggal di asrama. Ia harus belajar hidup lebih mandiri dan beradaptasi jauh dari keluarga. Bahkan, pada masa tertentu ia pulang ke Kudus menumpang bus sendiri.

Bagi seorang anak dengan kondisi fisik yang berbeda, perjalanan tersebut tentu bukan perkara sederhana. Namun, justru dari pengalaman itulah kemandirian Salwa semakin terasah.

Menemukan Dunia Seni

Di Kota Solo, cakrawala Salwa semakin terbuka. Ia mulai mengenal berbagai kegiatan seni dan olahraga renang. Bahkan Salah satu kemampuan yang berkembang pesat adalah melukis menggunakan kaki.

Halaman Selanjutnya
img_title