Barikan Kubro ke-11, Tradisi Leluhur Karimunjawa yang Terus Menyatukan Enam Suku ‎

Festival Batikan Kubro Karimunjawa
Sumber :
  • Vivajogja

VIVAJogja –‎ JEPARA, Ratusan warga memadati kawasan Perempatan Puskesmas Lama, pesisir pantai, hingga Alun-alun Karimunjawa dalam rangkaian Barikan Kubro ke-11, Kamis (27/6).

img_title Warga Tahunan Jepara Tolak Homestay FN18, Desak Pemkab Cabut Izin dan Buat Regulasi Penginapan

Tradisi budaya yang digelar setiap Kamis Pon menjelang Jumat Wage ini berlangsung khidmat dan semarak sebagai wujud sedekah bumi dan sedekah laut, ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi, hasil laut, serta keselamatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

‎Rangkaian acara diawali dengan doa bersama di kawasan Perempatan Puskesmas Lama yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya para leluhur enam suku yang pertama kali membangun kehidupan di Karimunjawa, yakni Jawa, Bugis, Mandar, Buton, Madura, dan Bajo. Prosesi tersebut dihadiri jajaran Forkopimcam Karimunjawa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, perangkat desa, pemuda, dan ratusan warga.

img_title Peran Sekolah Sangat Besar, Pelestarian Seni Ukir Jepara Harus Dimulai Sejak Usia Dini

‎Usai doa bersama, masyarakat menggelar kirab budaya dengan membawa buceng beserta berbagai hasil bumi sebagai simbol sedekah dan rasa syukur.

Arak-arakan bergerak menuju pesisir pantai sambil diiringi kesenian tradisional. Di sepanjang perjalanan, rombongan disambut atraksi teatrikal bajak laut yang menggambarkan sejarah kehidupan masyarakat pesisir sekaligus menjadi hiburan yang selalu dinantikan dalam setiap penyelenggaraan Barikan Kubro.

img_title Pabrik Garmen Legendaris di Jepara Tutup, 670 Karyawan Kehilangan Pekerjaan

‎Setibanya di laut, dilakukan prosesi larung buceng sebagai puncak ritual sedekah laut. Buceng yang dilarung menjadi simbol penyerahan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar masyarakat Karimunjawa senantiasa diberikan keselamatan, hasil tangkapan laut yang melimpah, panen yang baik, serta dijauhkan dari berbagai bencana.

‎Setelah prosesi larung selesai, masyarakat kembali menuju Alun-alun Karimunjawa. Suasana berubah menjadi semarak dengan penampilan tari kolosal yang melibatkan sekitar 300 penari.

Pertunjukan tersebut menggambarkan semangat kebersamaan dan keberagaman masyarakat Karimunjawa yang hidup berdampingan dalam harmoni.

‎Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan, mengatakan Barikan Kubro merupakan warisan budaya yang lahir dari semangat persatuan masyarakat sejak Karimunjawa mulai dihuni oleh berbagai suku.

‎"Tradisi ini menjadi simbol persatuan masyarakat Karimunjawa. Enam suku yang menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Karimunjawa, yakni Jawa, Bugis, Mandar, Buton, Madura, dan Bajo, hingga kini tetap hidup berdampingan dengan menjunjung tinggi nilai gotong royong, toleransi, serta saling menghormati sebagaimana diwariskan para leluhur," ujar Arif Lewat sambungan telpon kepada Vivajogja.

Halaman Selanjutnya
img_title