Sedasawarsa Merti Kampung Bangunrejo: Tradisi yang Menyatukan Budaya, Ekonomi, dan Sungai
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Suasana penuh kebersamaan kembali mewarnai Kampung Bangunrejo RW 13, Kelurahan Kricak, Tegalrejo, saat warga menggelar Merti Kampung untuk kesepuluh kalinya. Tradisi yang telah berlangsung selama sedasawarsa ini bukan hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga ruang untuk merawat budaya, memperkuat ekonomi warga, sekaligus menjaga kelestarian Sungai Winongo.
Dengan tema “Sedasawarsa Ruwat, Rawat, Rawit”, Merti Kampung tahun ini berlangsung selama empat hari dan mencapai puncaknya pada Minggu (28/6). Warga dari berbagai lapisan usia, mulai dari sesepuh hingga anak-anak, terlibat aktif dalam rangkaian acara yang menampilkan seni tari, kirab budaya, bazar UMKM, hingga pelepasan benih ikan di sungai. Kehadiran mereka mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi fondasi tradisi ini.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang hadir melepas kirab budaya, memberikan apresiasi atas konsistensi warga Bangunrejo dalam menjaga tradisi selama satu dekade. “Sepuluh kali berturut-turut bukan hal yang mudah. Artinya masyarakat memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga tradisi, menjaga kebersamaan, dan menjaga kampungnya,” ujarnya. Ia menilai Merti Kampung bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan sungai.
Menurut Hasto, pelestarian budaya akan semakin kuat jika melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tradisi seperti Merti Kampung, katanya, menjadi ruang belajar sekaligus perekat hubungan antargenerasi. Dengan ditetapkannya Kelurahan Kricak sebagai Kelurahan Budaya, ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi kampung lain di Yogyakarta.
Ketua RW 13 Bangunrejo, Haryanto, menegaskan bahwa Merti Kampung tahun ini memiliki makna istimewa. Selain menandai usia sedasawarsa, status Kelurahan Kricak sebagai Kelurahan Budaya menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi warga. “Masyarakat ingin membuktikan bahwa budaya tidak hanya dilestarikan melalui pertunjukan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Rangkaian acara Merti Kampung tahun ini diwarnai dengan penampilan seni tari dari enam kontingen, bazar UMKM yang diikuti 36 stan, serta pelepasan benih ikan di Sungai Winongo. Bazar UMKM menjadi magnet tersendiri, dengan omzet mencapai Rp92 juta selama empat hari pelaksanaan. Angka ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. “Alhamdulillah perputaran ekonomi selama pelaksanaan Merti Kampung sangat baik. Harapannya ke depan pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya semakin luas,” ungkap Haryanto.