Jawab Kritik Publik, Prambanan Jazz Festival 2026 Siap Tampil ‘Lebih Jazz’
- jogja.viva.co.id/ Cahyo PE
SLEMAN, VIVA Jogja — Perhelatan musik tahunan yang selalu dinanti, Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026, kembali hadir di pelataran megah Candi Prambanan pada 3, 4, dan 5 Juli 2026. Memasuki tahun ke-12 penyelenggaraan, festival kali ini mengusung tema besar Celebrate the Joy sekaligus membawa angin segar dengan format musik yang lebih kental bernuansa jazz.
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas kritik publik yang selama beberapa tahun terakhir menilai formasi penampil PJF kurang merepresentasikan genre jazz. Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, mengakui bahwa kritik adalah bagian dari perjalanan panjang festival. Ia menegaskan, pihak manajemen selalu terbuka terhadap masukan dari pencinta musik.
“Kami selalu mendengarkan kritikan dari banyak pihak dan terus berupaya memperbaikinya. Tahun ini, berdasarkan perhitungan kami, 63 persen penampil di Prambanan Jazz Festival memiliki unsur jazz,” ungkap Anas dalam konferensi pers, Kamis (02/07/2026).
Angka tersebut menjadi lonjakan signifikan, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya representasi musisi jazz di PJF selalu berada di bawah 50 persen. Untuk memperkuat komitmen itu, PJF 2026 meluncurkan program eksperimental bertajuk Playing Jazz. Program ini menantang musisi lintas genre untuk keluar dari zona nyaman dengan mengaransemen ulang lagu-lagu populer mereka menjadi bernuansa jazz.
Selain itu, hadir pula Panggung Langgam, sebuah panggung khusus yang didedikasikan sepenuhnya bagi musisi jazz murni. Ruang ini diharapkan menjadi wadah intim bagi para purist jazz sekaligus memperkenalkan keindahan musik jazz kepada generasi muda.
“Ketika mereka datang untuk menonton musisi favoritnya, tiba-tiba mereka menyaksikan penampilan pianis kelas dunia seperti Joey Alexander. Saya berharap mereka kemudian berkata, ‘ternyata jazz ini keren juga ya’,” ujar Anas optimistis.
Untuk menjaga kualitas line-up, PJF 2026 menggandeng musisi sekaligus kurator Syahdu Rasjidi, putra dari maestro jazz legendaris Indonesia, mendiang Idang Rasjidi. Syahdu memikul tanggung jawab besar dalam mengawal arah musikalitas festival. Menurutnya, ramainya kritik di media sosial justru menjadi bukti besarnya cinta masyarakat terhadap PJF. “Dalam beberapa tahun terakhir, banyak diskusi mengenai Prambanan Jazz di kolom komentar. Menurut saya, itu menunjukkan bahwa banyak orang peduli terhadap festival ini. Saya menghargai semua masukan tersebut,” kata Syahdu.