Museum Gedung Agung, Jejak Sejarah dan Seni yang Hidup di Jantung Yogyakarta
- Dok Pemda DIY
VIVA Jogja - Istana Kepresidenan Yogyakarta yang akrab disebut Gedung Agung. Bangunan bercat putih ini seolah menjadi penanda keanggunan sekaligus saksi perjalanan panjang bangsa. Rombongan Dewan Juri Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY bersama Sekda DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti dan Kepala Biro Tapem Setda DIY Nuri Achadiyanti, menyempatkan diri menelusuri sudut-sudut istana, khususnya Gedung Senisono yang kini difungsikan sebagai museum.
Dipandu Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, rombongan seakan diajak memutar kembali kaset sejarah. Gedung Senisono yang dibangun pada 1822 awalnya dikenal sebagai Gedung Jenewer atau Kamar Bola, tempat kalangan Belanda berdansa. Seiring waktu, bangunan ini menjadi saksi bisu perjalanan bangsa, dari era Jepang dengan nama Balai Mataram, hingga menjadi lokasi Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada November 1945. Sejak 1967, gedung ini juga menjadi pusat kesenian Yogyakarta, tempat seniman besar seperti Rendra, Sawung Jabo, dan Affandi berkumpul.
Transformasi besar terjadi pada 2014 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menata ulang Gedung Senisono sebagai museum. Langkah konservasi ini menjadikan gedung bersejarah tersebut ruang pamer yang memukau. Begitu memasuki museum, pengunjung disambut koleksi yang tertata rapi sesuai era kepemimpinan republik. Dokumentasi Presiden Soekarno yang berpidato penuh semangat pasca kemerdekaan, potret Presiden Soeharto melambaikan tangan, hingga foto B.J. Habibie bersama pesawat N250 menjadi bagian dari perjalanan visual yang menghidupkan kembali memori bangsa.
Narasi berlanjut dengan lukisan Gus Dur berlatar rumah ibadah yang menegaskan pluralisme, Megawati Soekarnoputri dengan bayangan R.A. Kartini yang menyiratkan kesetaraan, hingga kolase SBY berlatar alutsista. Koleksi wakil presiden dan cendera mata kenegaraan berupa keramik antik turut melengkapi etalase sejarah. Bagi para juri, tur ini menjadi momen kalibrasi rasa dan estetika, menghadapkan mereka pada mahakarya maestro bangsa yang tak ternilai.
Keanggunan lukisan Nyai Roro Kidul karya Basuki Abdullah, ketegangan dalam Berburu Banteng II karya Raden Saleh, hingga karya revolusi S. Sudjojono, Affandi, dan Dullah seolah berdialog dengan idealisme seniman. Aura mistis semakin terasa saat rombongan menapaki lantai dua, di mana sebuah lukisan perempuan bermahkota hijau memancarkan pesona yang membuat sebagian pengunjung enggan menatap terlalu lama.