Gelar Budaya Gunungketur: Tradisi, Pangan, dan Ekonomi Warga dalam Satu Panggung

Merti Kampung dan Gelar UMKM bertajuk “Nguri-Uri Tradisi, Ngreksa Pangan, Mbangun Kamakmuran” digelar di Kelurahan Gunungketur
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Merti Kampung dan Gelar UMKM bertajuk “Nguri-Uri Tradisi, Ngreksa Pangan, Mbangun Kamakmuran” digelar di Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Yogyakarta. Acara ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah gerakan sosial yang menyatukan nilai tradisi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu rangkaian kegiatan. Kehadiran Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang membuka acara menambah semangat warga untuk terus menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat ekonomi kampung.

img_title Tradisi Wiwitan Bangunjiwo Meriahkan Syukur Panen dan Promosi Wisata Budaya

Dalam sambutannya, Hasto menekankan bahwa tema yang diusung memiliki makna mendalam bagi masyarakat. “Nguri-uri tradisi sangat penting untuk membentuk dan mempertahankan identitas karakter masyarakat. Ngreksa Pangan berarti kita mempunyai kewajiban merawat bumi, sedangkan Mbangun Kamakmuran Raharja adalah harapan agar masyarakat hidup tenteram, harmonis, dan penuh keberkahan,” ujarnya. Ia menambahkan, pembangunan Yogyakarta tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, melainkan juga pada kekuatan budaya yang tumbuh dari kampung-kampung. Menurutnya, budaya adalah modal pembangunan yang mampu menggerakkan ekonomi, memperkuat UMKM, dan membuka ruang bagi seniman untuk berkarya.

Semangat kebersamaan terlihat jelas dalam prosesi kirab upeti yang menjadi pembuka acara. Warga dari berbagai kampung membawa tumpeng gudangan, ingkung, jajanan pasar, buah-buahan lokal, hingga dawet sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi. Prosesi ini dilanjutkan dengan doa bersama, pecah kendi, dan keduk tumpeng yang sarat makna spiritual. Tak berhenti di situ, panggung budaya kemudian diramaikan dengan pertunjukan wayang, tari kolosal, barongsai, musik tradisional, hingga penampilan bintang tamu. Semua rangkaian tersebut menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan ruang ekspresi yang terus hidup di tengah masyarakat.

img_title Tradisi Kenduri Suro Keparakan Lor Hidupkan Kebersamaan dan Doa Keselamatan Warga Yogyakarta

Mantri Pamong Praja Kemantren Pakualaman, Saptohadi, menegaskan bahwa Merti Kampung adalah wujud rasa syukur atas keselamatan dan keberkahan hidup. Ia menilai tradisi ini menjadi media untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. “Melalui Merti Kampung ini kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terus nguri-uri tradisi sebagai identitas budaya. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian terhadap ketahanan pangan,” katanya. Saptohadi juga mengingatkan bahwa tantangan globalisasi menuntut kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku seni, dan pelaku usaha agar budaya lokal tetap bertahan sekaligus memberi manfaat nyata bagi ekonomi warga.

Halaman Selanjutnya
img_title