UGM Hidupkan Semangat Tradisi Lewat Festival Karawitan dan Bazar Nusantara
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan perannya sebagai pusat kebudayaan dengan menggelar Festival Karawitan dan Bazar Nusantara di Lapangan Fakultas Filsafat, Sabtu (18/07/2026). Perhelatan ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM dan menghadirkan 52 kelompok karawitan serta 30 tenant UMKM yang menawarkan beragam produk mulai dari kuliner, aksesori, hingga tanaman hias.
Festival tahun ini mencatat peningkatan jumlah peserta dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya diikuti 47 kelompok karawitan. Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, pertunjukan berlangsung sejak pagi hingga malam dengan jadwal yang padat, menampilkan kelompok dari lingkungan UGM, komunitas seni, hingga masyarakat dari berbagai daerah.
Ketua Panitia, Dr. Sartini, M.Hum., menjelaskan bahwa Festival Karawitan telah digelar sejak 2017. Pada awalnya, kegiatan ini hanya melibatkan kelompok karawitan dari lingkungan kampus. Namun, antusiasme masyarakat yang semakin besar membuat festival berkembang menjadi ajang yang terbuka bagi komunitas seni dari luar UGM. Sartini menambahkan, tahun ini terdapat 24 kelompok karawitan dari berbagai fakultas di UGM, sementara sisanya berasal dari sekolah, instansi, dan komunitas seni di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar perayaan Dies Natalis, melainkan juga upaya merawat nilai-nilai tradisi Indonesia. Menurutnya, karawitan adalah roh kehidupan yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Ia menekankan bahwa ruang seperti festival ini penting untuk menumbuhkan semangat menjaga tradisi di tengah arus modernisasi.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, turut memberikan apresiasi atas komitmen Fakultas Filsafat dalam melestarikan budaya. Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang hidup bagi pelestarian budaya sebagai hasil dialektika perkembangan zaman. Kehadiran berbagai komunitas dalam festival ini, menurut Ova, menunjukkan bahwa kegiatan budaya di kampus mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Festival Karawitan juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai seni tradisi. Salah satu peserta, Alisha Putra Nafeeza dari kelompok Kagama Sekar Gending, menuturkan bahwa karawitan adalah warisan budaya yang harus dijaga. Ia mengingatkan bahwa minat generasi muda terhadap musik tradisional Nusantara masih perlu ditumbuhkan. Baginya, festival semacam ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan tradisi kepada anak-anak sejak dini.