Sapto Heru Ananto: Ketika Masa Pensiun Justru Menjadi Babak Baru Pengabdian

Sapto Heru Ananto, S.Pd.. Setelah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai pendidik hingga menutup karier sebagai Kepala SDN 5 (foto:istimewa/vivajogja)
Sumber :
  • VIVAJogja

VIVAJogjaJEPARA, Bagi sebagian orang, masa pensiun menjadi penanda berakhirnya pengabdian. Seragam dinas disimpan, rutinitas berubah, lalu kehidupan berjalan lebih tenang bersama keluarga. Namun tidak demikian bagi Sapto Heru Ananto, S.Pd.. Setelah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai pendidik hingga menutup karier sebagai Kepala SDN 5 Mulyoharjo, Kabupaten Jepara, ia justru memaknai pensiun sebagai awal dari ruang pengabdian yang lebih luas.

img_title Bupati Bangga Jepara Diperhatikan Pemerintah Pusat untuk Cegah Radikalisme

"Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, saya ingin tetap bermanfaat bagi orang lain," ucapnya pelan.

Kalimat sederhana itu menjadi cerminan perjalanan hidup pria kelahiran Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 1 Maret 1959 tersebut.

img_title Dari Eks JI ke Agen Perubahan, BNPT-Densus 88 Garap Transformasi Ponpes Al Muttaqin

Berawal dari Sebuah Panggilan

Tahun 1979 menjadi titik penting dalam hidup Sapto. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mendapat penugasan sebagai guru sekolah dasar di Kabupaten Jepara.

img_title Ratusan Motor Jadul Jajal Jalan Mulus Jepara, Bupati Ikut Bernostalgia ke Era 70 an

Jepara kemudian bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah yang membentuk perjalanan hidupnya. Di kota ukir itulah ia mengabdikan diri mendidik generasi muda selama puluhan tahun hingga dipercaya memimpin SDN 5 Mulyoharjo.

Di sela pengabdiannya sebagai guru, ia membangun keluarga bersama Suprihatin, S.Pd., perempuan asal Kotagede, Yogyakarta. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga putra dan enam cucu. Kini keluarga besarnya menetap di Desa Kuwasen, Kecamatan Jepara.

Pendidikan Boleh Selesai, Pengabdian Jangan

Bagi Sapto, menjadi guru bukan sekadar profesi. Pendidikan mengajarkannya bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang diraih, tetapi juga dari apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itulah, ketika memasuki masa purna tugas, ia tidak merasa telah selesai menjalankan tanggung jawab sosialnya.

"Jabatan memiliki batas waktu. Tetapi pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal masa pensiun," katanya.

Prinsip itu pula yang membuatnya tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia percaya, pengalaman panjang selama menjadi pendidik dapat tetap memberi manfaat ketika dibagikan kepada lingkungan sekitar.

Kepercayaan Dibangun dari Tindakan

Di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap integritas para pemimpin dan tokoh publik, Sapto melihat satu hal yang tidak boleh berubah: kepercayaan hanya lahir dari keteladanan.

Halaman Selanjutnya
img_title