Conclave: Ketika Dinding Vatikan Menyimpan Lebih dari Doa

Poster Film Conclave
Sumber :
  • VIVA Jogja/ist

VIVA Jogja - “Conclave” bukan sekadar film tentang pemilihan Paus. Ini adalah thriller psikologis yang mendekonstruksi kekuasaan, iman, dan rahasia terdalam di balik jubah kardinal.

img_title The Prophecy of the Popes dan Misteri Hari Penghakiman: Menelusuri Ramalan Santo Malachy Setelah Paus Fransiskus

Disutradarai dengan presisi oleh Edward Berger (All Quiet on the Western Front), Conclave membawa penonton masuk ke dalam dunia yang sangat tertutup: pemilihan Paus setelah kematian pemimpin tertinggi Gereja Katolik.

Tapi alih-alih menjadi dokumenter kaku atau kisah biografi religius, film ini memilih jalur berani — menjadikannya sebagai medan perang ideologi dan moralitas dalam atmosfer yang menegangkan.

img_title 17 November Hari Orang Miskin Sedunia: Ini Hakikat Miskin dalam Ajaran Beberapa Agama

Cerita bergerak mengikuti Kardinal Lomeli (diperankan dengan kharisma dingin oleh Ralph Fiennes), yang ditunjuk sebagai Dean of the College of Cardinals, pemimpin proses konklaf.

Tapi ketika surat rahasia dari Paus yang wafat ditemukan, terungkaplah bahwa salah satu dari 118 kardinal yang terlibat dalam pemilihan memiliki masa lalu yang bisa menghancurkan Gereja itu sendiri.

img_title Bendungan Jlantah Resmi Beroperasi, Perkuat Pasokan Air Pertanian Karanganyar

Dari sinilah, narasi berkembang menjadi semacam whodunit (genre kisah misteri yang berfokus pada mengungkap identitas pelaku kejahatan, yang biasanya adalah seorang pembunuh, dalam sebuah cerita atau film) rohani, dengan intrik politik dan ketegangan etis yang luar biasa.

Yang paling mengesankan dari Conclave adalah bagaimana film ini mampu menyulap ruang-ruang hening Vatikan menjadi panggung drama berlapis. Berger tidak sekadar menggambarkan proses konklaf secara prosedural, tetapi menjadikan setiap pandangan, setiap bisikan, dan setiap detak jam sebagai simbol dari kekuasaan yang tak kasat mata.

Sinematografi minim cahaya dan dialog yang tajam mengingatkan kita pada Tinker Tailor Soldier Spy — namun dengan nuansa sakral. Musik latar bekerja dalam bisikan, seolah mengiringi doa dan kebimbangan batin para tokoh.

Fiennes tampil gemilang, nyaris seperti antihero: ia bukan orang suci, tapi juga bukan konspirator. Ia adalah cermin penonton — bingung, curiga, dan mendambakan kebenaran di tengah selimut keheningan Vatikan.

Conclave adalah film langka yang berani menyelam ke kedalaman iman dan kekuasaan dalam satu tarikan nafas. Bagi penonton yang menginginkan film cerdas, penuh lapisan makna, dan atmosfer yang membekas lama setelah kredit akhir, ini adalah pilihan wajib. Bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi Paus, tapi siapa yang layak — dan apa yang harus dikorbankan untuk itu.

Halaman Selanjutnya
img_title