Umat Hindu Gelar Upacara Piodalan di Pusat Kerohanian UGM
- Dok Pusat Kerohanian UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Bertepatan dengan Purnama Jyesta, momen bulan purnama yang sakral pada bulan kesebelas kalender Hindu civitas akademika pemeluk agama Hindu di lingkungan UGM memperingatinya melalui upacara Piodalan atau Puja Wali di Pura Sanatanagama, Pusat Kerohanian UGM, Senin (12/05/2025) malam.
Upacara piodalan dipimpin oleh dua Pinandita, yakni Ida Nabe Shri Bhagawan Istri Lakhsmi Ratu Manik yang hadir khusus dari Bali dan Ida Sri Bhagawan Dalem Acarya Mahakerti Wira Jagat Manik, seorang profesor di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Kehadiran keduanya memberikan kekhusyukan tersendiri bagi para bhakta yang memenuhi halaman utama pura.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof I Nengah Duija, juga turut hadir dan berbagi wawasan tentang kehinduan di era modern dalam sesi Dharma Tula.
Sementara itu Ketua Sekolah Tinggi Agama HIndu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa Klaten, Prof Ida Bagus Gede Candrawan, turut memberikan dharma wacana sebelum persembahyangan dimulai. “Piodalan bukan hanya perayaan spiritual, tetapi juga ruang refleksi, kontemplasi, dan kolaborasi lintas elemen,” tutur Prof. Duija.
Kolaborasi antara tradisi Bali dan Jawa tampak harmonis dalam berbagai aspek upacara, mulai dari bentuk banten sesaji hingga tarian sakral yang ditampilkan. Selaras dengan hal tersebut, konstruksi bangunan Pura Sanatanagama sendiri juga mengadopsi gaya arsitektur candi Jawa ala Majapahit dengan sentuhan batu andesit, bukan bata merah. Pilihan ini diambil untuk menyelaraskan dengan filosofi Mataram dan semangat kebudayaan Yogyakarta serta sebagai penanda bahwa kampus UGM bukan hanya ruang akademik, tetapi juga menjadi ruang spiritual dan kultural.
Piodalan ini juga turut memperkuat jalinan sosial antarwarga kampus, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Hindu UGM yang sudah bergotong royong jauh-jauh hari sejak sebelum acara hingga acara selesai.
Nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi landasan utama dalam piodalan sehingga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta berusaha dijaga. Hal ini tercermin dari upaya menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan bahan alami untuk dekorasi, hingga kegiatan bersih-bersih yang dilakukan para mahasiswa anggota Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma setelah acara selesai.