Jejak Langkah Bagong Kussudiardja, Maestro yang Menari Melampaui Zaman
- VIVA Jogja/dok. Kemendikbud
VIVA Jogja - Yogyakarta, 1950-an. Di sebuah ruang latihan sederhana di tengah keramaian kota budaya, terdengar irama gamelan mengalun lembut. Seorang pemuda kurus, bermata tajam dan berambut ikal, tampak mengikuti gerak seorang guru tari dengan penuh konsentrasi. Itulah Bagong Kussudiardja, calon maestro yang kelak akan mengguncang dunia tari Indonesia dengan semangat pembaruannya.
Lahir dan besar di jantung budaya Jawa, Bagong tak langsung dikenal sebagai pelukis atau koreografer besar. Ia memulai langkah dari bawah — sebagai murid di Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang dipimpin oleh bangsawan sekaligus seniman karismatik, Pangeran Tedjokusumo. Di sekolah inilah, Bagong menyatu dengan roh tradisi: tari Jawa klasik yang sarat simbol dan tata nilai.
Namun, tradisi saja tak cukup bagi Bagong. Ia punya kegelisahan yang mendesak untuk menari tidak hanya demi keindahan, tapi juga sebagai bentuk ekspresi zaman. “Tari bukan hanya soal teknik. Ia harus hidup, tumbuh, dan menggugat,” ungkap Bagong dalam satu wawancara tahun 1980-an.
Tahun 1954, Bagong resmi memulai debutnya sebagai penari klasik. Tapi pencarian artistiknya tidak berhenti di situ. Tiga tahun kemudian, pada 1957, sebuah kesempatan besar datang: ia dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar langsung pada Martha Graham, pionir tari modern dunia.
Di bawah bimbingan Graham — dikenal dengan teknik tari yang menekankan ekspresi emosi dan gerak tubuh otentik — Bagong menemukan ‘bahasa baru’ untuk tubuhnya. Sepulang dari Amerika pada 1958, ia tidak hanya membawa ilmu, tapi juga misi: memperkenalkan tari modern kepada publik Indonesia yang masih lekat pada bentuk-bentuk tradisi.
Tahun itu pula ia mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT) — lembaga pertama di Yogyakarta yang menggabungkan pendekatan klasik dan modern dalam pendidikan tari. Dalam kurun waktu puluhan tahun, Bagong menciptakan lebih dari 200 karya tari — sebuah angka fantastis yang mencerminkan kegigihan dan produktivitasnya.
Beberapa karya awalnya seperti Layang-layang (1954), Satria Tangguh, atau Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), menunjukkan upaya keras Bagong menggali spiritualitas dan narasi sosial lewat bahasa tubuh. Yang paling kontroversial adalah Bedaya Gendeng, tari eksperimental yang dianggap mengguncang pakem tari sakral Jawa.