Festival Gunungan di Tahunan, Witiarso: Ekspresi Kreativitas dan Identitas Kultural Masyarakat Jepara
JEPARA, VIVAJogja - Festival gunungan dan kirab budaya rangkaian tradisi sedekah bumi kini marak diselenggarakan di kabupaten yang dikenal sebagai Bumi Kartini. Seperti halnya di Desa Tahunan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
Festival Gunungan dan Kirab Budaya tradisi Sedekah Bumi di Desa Tahunan, Kecamatan Tahunan, dibuka oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Tradisi ini menjadi salah satu momen penting dalam pelestarian budaya local. Selain itu, dan perwujudan rasa syukur masyarakat terhadap limpahan rezeki.
Bupati Witiarso lepas keberangkatan sedekah bumi di Desa Tahunan
- -
Bupati Witiarso menegaskan, sedekah bumi bukan sekadar tradisi tahunan saja. Namun juga ungkapan syukur masyarakat atas keselamatan dan hasil bumi yang telah diperoleh masyarakat.
“Semua ungkapan syukur itu dapat kita lihat dari suasana kebersamaan dan gotong royong dalam pelestarian budaya warisan leluhur ini,” terang Witiarso.
Kirab Gunungan dan Karnaval Budaya yang digelar, kata Witiarso, juga merupakan wujud ekspresi kreativitas dan identitas kultural masyarakat.
Ia menekankan pentingnya ruang-ruang fisik dan sosial di tengah era digital untuk memperkuat karakter generasi muda dan mempererat jati diri bangsa.
“Saya harap kegiatan ini tidak hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, agar makin mencintai budayanya, memahami akar tradisinya, serta menghormati warisan para leluhur,” imbuhnya.
Tradisi Sedekah Bumi memiliki peran strategis memperkuat solidaritas sosial, sekaligus membangkitkan potensi ekonomi dan pariwisata berbasis budaya lokal.
Karena itu, Pemkab Jepara mendorong program-program prioritas seperti revitalisasi warisan budaya, desa wisata aktif, dan festival budaya lokal.
Dengan terus merawat dan mengembangkan tradisi seperti itu, Witiarso yakin Jepara tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Ukir saja.
“Namun juga sebagai kota yang mampu mengharmonikan antara kemajuan dan kelestarian, antara ekonomi dan budaya, serta antara modernitas dan spiritualitas,” tandas Bupati.