Masyarakat Tunggui air dari Kyai Danumaya dan Kyai Mendung

Tradisi Nguras Enceh di Makam Imogiri
Sumber :
  • istimewa

VIVA Jogja – Ribuan orang sejak dini hari sudah memadati area makam Raja-raja di Imogiri, berusaha sedekat mungkin dengan tempayan pusaka peninggalan Sultan Agung yakni dua enceh utama, Kyai Danumaya yang merupakan hadiah dari Palembang dan Kyai Mendung hadiah dari Turki.

img_title Pemkab Bantul Resmikan Jogging Track Paseban, Targetkan Fasilitas Sehat di Tiap Kapanewon

Setiap tahun, tepat pada malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa-Islam, warga ingin menyaksikan atau mengikuti Tradisi Nguras Enceh dan bersiap untuk mendapatkan air dari sisa pembersihan enceh etrsebut.

Tradisi yang merupakan bagian dari ritual budaya ini sarat dengan, melainkan juga simbol penghormatan pada warisan sejarah yang makna spiritual yang terbangun selama beradab-adab.

img_title Silaturahmi Pemimpin Bantul Terdahulu Jadi Warna Hangat Hari Jadi ke-195

"Nguras" yang berarti menguras atau membersihkan, sedangkan "enceh" adalah tempayan besar dari tanah liat yang digunakan untuk menyimpan air yang berada di kompleks makam Imogiri. Terdapat empat enceh pusaka peninggalan Sultan Agung, masing-masing merupakan hadiah dari kerajaan sahabat yakni Kyai Danumaya dari Kerajaan Palembang, Nyai Danumurti dari Kerajaan Aceh, Kyai Mendung dari Kesultanan Turki dan Kyai Siyem dari Kerajaan Siam (Thailand)

Enceh-enceh ini pernah digunakan Sultan Agung untuk berwudu dan kini dianggap sebagai benda pusaka yang membawa berkah.

img_title Bantul Fest 2026 Jadi Panggung Ekspresi Pelajar, Malam Puncak Pentas Budaya Meriahkan Gerbang Pleret

Dipaparkan Menurut Raden Medono Rekso Sastro Wisani, Carik Puroloyo Pajimatan Imogiri, tradisi ini selalu menarik ribuan orang setiap tahunnya. Banyak yang datang sejak malam sebelumnya dan menginap di pelataran makam demi mendapatkan air suci.

Tradisi ini sudah turun temurun berlangsung setiap 1 Suro dan menjadi sebuah kebetulan, 1 Suro tahun ini bertepatan dengan Jumat Kliwon dan biasanya memang tradisi Nguras Enceh digelar tiap bulan Suro, harinya Jumat Kliwon. Karena itu, Rekso Sastro juga membenarkan kalau tahun ini antusias warga lebih tinggi dari sebelumnya.

Masyarakat datang untuk mengambil air nguras enceh, dengan keyakinan bahwa air itu akan mendatangkan berkah.

Tradisi Nguras Enceh dilakukan oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta. Dua enceh utama Kyai Danumaya dan Kyai Mendung, dikuras, lalu diganti dengan air baru. Air bekas kurasan ini kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Warga dari berbagai daerah bahkan rela datang sejak malam, membawa botol untuk mendapatkan air suci tersebut.

Halaman Selanjutnya
img_title