Dari Desa, Untuk Dunia: Anak Muda Yogya dan Banyumas Hidupkan Warisan Budaya Lewat Video Pendek
- Istimewa
VIVA Jogja – Mengambil moment Hari Pemuda Internasional, UNESCO Jakarta didukung oleh ICHCAP (The International Information and Networking Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under the auspices of UNESCO) menggelar IchLinks Creative Content Contest (Juni–Oktober 2024), sebuah inisiatif yang mendorong komunitas di seluruh Asia-Pasifik untuk menceritakan kisah warisan budaya tak benda melalui media digital.
Di Indonesia, kompetisi ini menargetkan pemuda Yogyakarta dari sekolah film, yang melibatkan 48 pegiat film muda, yang mendalami tradisi lokal, dengan riset lapangan, menulis skenario, dan memproduksi video pendek asli yang menangkap lanskap budaya mereka.
Tiga karya yang terpilih: Juara satu (1) Risang Panji Kumoro, dengan judul film Babaran Pusaka, disusel Ragil Wahyu Aji sebagai juara dua (2) dengan judul film Goresan Cerita dan Umar Al Jufri sebagai juara tiga (3) dengan judul film Dialog Dua Pohon.
Ketiga film ini mengeksplorasi narasi lintas generasi, filosofi berbasis alam, dan tradisi wayang, dengan pendekatan visual yang segar dan penuh makna, mengeksplorasi tradisi antar generasi, serta menawarkan perspektif baru tentang bagaimana warisan budaya hidup dan berkembang.
Director, Information and Research Office, ICHCAP, Mr. Weonmo Park menjelaskan, kompetisi ini lebih dari sekadar pemutaran film. “Ini adalah gerakan pemuda yang secara aktif mempromosikan dan menafsirkan ulang warisan budaya mereka dan kreativitas mereka menunjukkan bagaimana tradisi hidup dapat berkembang di era digital,” ungkapnya.
Dua lokasi pemutaran film, di Banyumas, berlangsung di Heterospace Selasa (12/08/2025), diikuti sesi interaktif bersama siswa SMA, mahasiswa, dan komunitas film lokal. Diskusi difasilitasi oleh UNESCO dan ICHCAP, membahas strategi konten budaya untuk platform digital.
Sedang di Yogyakarta, dilakukan di Dukuh Sawit, Bantul, dan dihadiri ratusan warga pada Rabu (13/08/2025) malam untuk menyaksikan “Babaran Pusaka”. Film ini menggambarkan ritual Jamasan khas desa mereka.
Sambutan hangat datang dari warga dan Kepala Desa Panggungharjo, didukung fasilitas Bioskop Keliling dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. “Kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal dan menjaga warisan budaya desa mereka,” ujar Bangkit Sholahuddin, Kepala Dukuh Padukuhan Sawit. “Dari desa kita bergerak, dan dari desa kita bangkit Bersama,” sambutnya.