Wayang Republik: Menghidupkan Kembali Cita-Cita Proklamasi dari Jantung Yogyakarta

Pentas Wayang Republik 5 September 2025
Sumber :
  • Istimewa

"Yogyakarta menjadi termasyhur karena jiwa kemerdekaannya. Hidup-hidupilah terus jiwa kemerdekaan itu." (Presiden Sukarno)

img_title Wagub DIY dan Kapolda Baru Sepakat Selaraskan Penanganan Dinamika Sosial

VIVA Jogja - Kalimat yang ditulis Bung Karno sesaat sebelum ibu kota Republik Indonesia kembali ke Jakarta, setelah sempat berpindah ke Yogyakarta, bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah pengingat abadi tentang peran istimewa Yogyakarta dalam menjaga nyala kemerdekaan. Di masa genting Republik, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII memilih bersatu dengan rakyat, bergabung ke dalam Republik yang baru lahir. Pilihan itu bukan hanya simbol, melainkan modal politik yang menyelamatkan kelangsungan negara.

Delapan dekade telah berlalu sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun semangat untuk mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur tetap relevan. Di tengah tantangan zaman, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, lemahnya penegakan hukum, dan rapuhnya ekosistem demokrasi, ita-cita para pendiri bangsa masih menjadi kompas moral yang perlu terus dihidupkan.

img_title 15 Tahun KUSTOMFEST: “High Octane” Pacu Kreativitas Builder Kustom Indonesia

Itulah pesan utama dari Pagelaran Wayang Republik, sebuah pertunjukan budaya yang akan digelar pada Jumat, 5 September 2025, di Pendopo Hastodiningrat, Kampung Tegalsari Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Lebih dari sekadar pertunjukan, Wayang Republik adalah ajakan untuk merenung dan kembali menyelami jati diri bangsa—di tengah riuh rendah komunikasi publik yang kerap kehilangan makna.

Simfoni Kebangsaan dan Refleksi Budaya

img_title Kreativitas Daur Ulang Warnai Karnaval HUT ke-270 Kota Yogyakarta

Pagelaran dimulai pukul 16.00 WIB, dibuka oleh 26 pelajar dari Sanggar Biola Quinta yang akan membawakan rangkaian lagu kebangsaan dan daerah, seperti “Indonesia Raya”, “Mengheningkan Cipta”, “Tanah Air”, “Indonesia Jaya”, “Symphony Yang Indah”, “Medley Jawa”, “Lir-Ilir”, dan “Koyo Jogja Istimewa”. Musik menjadi pintu masuk untuk membangkitkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan budaya.

Setelah itu, suasana akan bergeser ke nuansa spiritual lewat penampilan grup Sholawatan Jawi Laras Madya Al Hidayah, yang membawakan puji-pujian kepada Sang Pencipta. Sanggar Seni Tegalsari kemudian menghadirkan lagu-lagu dolanan bocah, mengingatkan kita pada akar tradisi yang membentuk karakter bangsa.

Puncak acara akan diisi dengan pemutaran video dokumenter “Sinau Sejarah”, penampilan kelompok musik Exstra Vagongso, dan pertunjukan Wayang Republik oleh dalang Ki Catur Benyek.

Halaman Selanjutnya
img_title