Gerobak Sapi Simbol Kebahagiaan Agraris

Gerobak Sapi simbol warisan budaya agraris
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

VIVA Jogja - Di tengah arus modernisasi dan kendaraan bermotor yang mendominasi jalanan, sekelompok warga Yogyakarta memilih untuk melawan arus dengan gerobak yang ditarik dua ekor sapi Jawa atau PO (Peranakan Ongole) berpunuk.

img_title Tradisi Cupu Kyai Panjolo di Mendak, Gunungkidul: Menjaga Warisan Leluhur dan Menguatkan Kebersamaan

Gerobak sapi dulunya adalah alat transportasi utama di pedesaan Jawa. Kini, berkat semangat komunitas, tradisi ini dihidupkan kembali sebagai atraksi wisata yang berbasis budaya agraris.

Gerobak sapi bukan sekadar alat transportasi, dalam tiap bagiannya, menyajikan filososi hidup manusia Jawa yang sederhana.

img_title Wagub DIY dan Kapolda Baru Sepakat Selaraskan Penanganan Dinamika Sosial

Trucuk atau ujung melengkung di bagian depan gerobak, mirip bajak kayu, sebagai simbol Ketuhanan.  Gribig atau dinding samping kanan dan kiri gerobak, biasanya berupa anyaman bambu, melambangkan kesederhanaan dan Kejujuran. Tepong yakni penutup belakang gerobak, kadang dihias atau dicat warna-warni menandakan semangat kebersamaan dan harmoni antara manusia dan alam.

Bagian lain yang juga menjadi penting di Gerobak Sapi yakni Klusut atau rem gerobak, digunakan untuk mengendalikan laju saat menurun. Gulak Tali, rem yang terhubung ke klusut. Manukan berupa kayu panjang yang menengadah ke atas, bagian estetis sekaligus simbolik. Sambilan yakni tempat leher sapi, bagian yang menghubungkan sapi dengan gerobak. Angkul-angkul,  kayu yang menggantung untuk mengunci leher sapi agar tetap stabil, dan Dadung, tali pengikat sapi, biasanya dari ijuk atau tambang kuat.

img_title 15 Tahun KUSTOMFEST: “High Octane” Pacu Kreativitas Builder Kustom Indonesia

Setiap bagian tidak hanya berfungsi secara teknis, tapi juga punya nilai estetika dan simbolik. Misalnya, manukan sering dihias sebagai bentuk ekspresi seni dan kebanggaan pemiliknya.

Di selurh DI Yogyakarta, setidaknya terdata enam (6) paguyuban Gerobak Sapi yakni Paguyuban Gerobak Sapi (PGS) Makarti Roso Manunggal, yang tengah merayakan kebersamaan mereka untuk ke-12 tahunnya, Paguyuban Gerobak Sapi Pangrekso Andhini Karyo Sleman Utara, Manunggal Lestari Sleman Barat, PGS Guyub Rukun Bantul, PGS Pager Merapi dan PGS Langgeng Sehati, dengan jumlah Gerobak Sapi kurang-lebih 300an.

Gerobak Sapi adalah narasi tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan cinta terhadap warisan leluhur. Berjalan pelan, tidak tergesa-gesa, mencerminkan hidup yang tidak serakah, jujur dalam proses. Pengemudi gerobak sapi yang sering disebut “Bajingan”, perlambang manusia dengan kesabaran, dan ketekunan.

Filosofi ini mengajarkan bahwa hasil yang baik datang dari proses yang panjang dan penuh dedikasi dan kebersamaan.

Dalam tiap perjumaan gerobak sapi, kirab menunjukkan sikap saling mendukung, saling membantu dan merayakan identitas kolektif.

Selain selalu menarik perhatian, perpaduan antara gerobak dan sapi-sapi penariknya yang jumbo, menjadi sinyal tersendiri, betapa keharmonisan menjadi kunci, saat sang pengendara menyabetkan pecut ke arah sapi-sapinya sebagai perintah. Tanpa relasi yang kuat dengan sapi-sapi, pengendaranya pun tentu tak memiliki kuasa memerintah.

Dari relasi itulah, kemudian muncul ‘rasa’ cinta kepada hewan berpunuk dan tak jarang sapi yang secara umumnya adalah hewan peternakan, kian menjadi klangenan atau pet dan memperlakukannya bak keluarga.

Sapi yang tak hanya jinak, tapi juga tampak begitu akrab dengan pemiliknya, bukan hanya soal hubungan manusia dan hewan, tapi juga cerminan nilai-nilai lokal, gotong royong, rasa empati, dan penghargaan terhadap makhluk hidup. Relasi kebahagiaan antara seorang penggerobak dan sapinya.