Semangkuk Kehangatan Tradisi: Wedang Ronde dan Jejak Budayanya
- Istimewa
VIVA Jogja - Aroma jahe yang mengepul dari sebuah mangkuk kecil mampu membangkitkan kenangan, kehangatan, dan rasa nyaman. Wedang ronde, minuman tradisional yang kerap dianggap sebagai warisan kuliner Jawa, ternyata menyimpan sejarah lintas budaya yang lebih luas dari sekadar label lokal.
Banyak masyarakat Indonesia mengira wedang ronde adalah minuman asli Jawa. Kekeliruan ini bisa dimaklumi, mengingat kata “wedang” dalam bahasa Jawa berarti minuman panas. Namun, ronde sendiri berasal dari Tiongkok dan dikenal dengan nama tāngyuán. Di negeri asalnya, bola-bola ketan berisi pasta kacang manis ini disajikan dalam kuah manis saat Festival Yuanxiao atau Festival Lampion, yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan pertama kalender lunar. Tradisi ini sudah berlangsung sejak Dinasti Song (960–1279 M).
Seiring migrasi dan perdagangan, tāngyuán menyebar ke berbagai negara Asia Tenggara. Di Vietnam, minuman ini hadir dalam dua versi: kuah jahe dan kuah santan. Di Filipina, ia dikenal sebagai ginataang bilo-bilo, disajikan dalam kuah santan kental. Ketika sampai di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, minuman ini mengalami adaptasi rasa dan penyajian. Kuah manis diganti dengan air jahe yang pedas hangat, ditambah gula kelapa, kacang tanah sangrai, kolang-kaling, dan potongan roti tawar.
Lebih dari Sekadar Minuman
Di Yogyakarta, wedang ronde bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan penghangat jiwa. Salah satu tempat yang menyajikan wedang ronde dengan cita rasa khas adalah Tabon Ramak, yang berlokasi di Kotagede. Di sana, semangkuk wedang ronde dibanderol seharga Rp8.000, harga yang sangat bersahabat untuk kehangatan yang ditawarkan. Tabon Ramak buka setiap hari dari pukul 16.00 hingga 22.00 WIB, menjadikannya destinasi kuliner malam yang pas untuk warga lokal maupun wisatawan.
Selain wedang ronde, Tabon Ramak juga menyajikan menu tradisional lain seperti bakmi Jawa, jadah tempe, kopi, dan aneka cemilan. Tempat ini menjadi titik temu antara tradisi dan rasa, di mana pengunjung bisa menikmati kuliner sambil menyelami sejarahnya.
Khasiat dalam Setiap Tegukan
Wedang ronde bukan hanya lezat, tapi juga menyehatkan. Kuah jahe yang menjadi ciri khasnya memiliki efek termogenik, membantu meningkatkan suhu tubuh dan cocok dikonsumsi saat cuaca dingin atau musim hujan. Kandungan jahe, gula merah, dan jintan hitam dalam minuman ini juga memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi, yang dapat membantu meredakan gejala flu, masuk angin, dan gangguan pencernaan.