Biothoprak “Ande-Ande Lumuten”: Ketoprak Satir Satukan Biologi, Budaya, dan Kritik Sosial
- Humas UGM
VIVA Jogja - Suasana malam di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah menjadi panggung budaya yang hidup, saat Biothoprak 2025 digelar sebagai bagian dari perayaan Lustrum XIV dan Dies Natalis ke-70. Dengan lakon “Ande-Ande Lumuten”, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan refleksi sosial yang dibalut dalam guyonan khas ketoprak Jawa.
Dari mahasiswa hingga dosen, alumni hingga tenaga kependidikan, semua bersatu di atas panggung dan di balik layar. Mereka bukan hanya memerankan tokoh, tetapi juga menghadirkan semangat kolektif keluarga besar Fakultas Biologi. Penonton pun larut dalam cerita, tertawa, tertegun, dan sesekali merenung.
Cerita dibuka dengan latar Kerajaan Jenggala yang tengah dilanda krisis. Menteri Keuangan melaporkan defisit anggaran dan utang yang menumpuk, lalu mengusulkan pemangkasan tunjangan pejabat dan peningkatan pajak. Namun, Patih Brajanata menentang keras, bahkan menuntut kenaikan tunjangan dan mengincar tahta kerajaan. Ketegangan politik pun memuncak.
Di sisi lain, Menteri ESDM mengungkap potensi tambang di hutan lindung, sementara Menteri Kesehatan menyinggung program MBG yang bermasalah. Sang ratu, Gusti Kanjeng Ratu, mendengarkan dengan bijak, menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas.
Cerita berlanjut pada Ande-Ande Lumuten, putra sang ratu yang belum cukup usia untuk memimpin. Ketika ia diracuni oleh sang patih, sayembara digelar untuk mencari penawar. Pertemuan dengan Klenting Kuning menjadi titik balik, dan pesan moral tentang kejujuran pejabat menjadi penutup yang menyentuh.
Meski bersumber dari dongeng klasik, lakon ini dikemas dengan bahasa kontemporer dan sindiran halus terhadap isu-isu aktual. Dari MBG hingga eksploitasi sumber daya alam, semuanya disampaikan dengan gaya ketoprak yang ringan namun tajam.
Panggung Silaturahmi dan Kolaborasi
Dekan Fakultas Biologi, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D., menyebut Biothoprak bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi ruang silaturahmi antara sivitas aktif dan alumni, atau yang dikenal sebagai Kabiogama.
“Seni membuat hidup kita lebih indah. Lewat Biothoprak, kita ingin membangkitkan kembali semangat berkesenian di kalangan akademisi,” ujarnya di teras fakultas.